Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Ringkasan Sejarah Filsafat Barat (Yunani–Modern) #1

Pemikiran filsafat sudah berkembang sejak abad keenam sebelum masehi. Kemunculan filsafat pertama kali berasal dari Yunani Kuno ketika orang-orang sudah memikirkan asal-usul alam semesta secara logis. Kelahiran filsafat juga tidak terlepas dari latar belakangnya yang ingin berlepas dari jawaban-jawaban takhayul atas permasalahan-permasalahan duniawi. Pelopor pemikiran filsafat, yang memiliki corak kritis-ilmiah, pertama kali dimulai oleh Thales (Hatta 1986). Thales adalah pelopor pemikiran filsafat yang bercorak kosmosentris, yaitu berfokus pada persoalan alam semesta sebagai unsur utama (arche). Pemikiran kosmosentrisme kemudian diteruskan oleh murid-murid Thales, yaitu Anaximander dan Anaximenes, dan terus berlanjut sampai Democritus yang mengatakan bahwa unsur alam semesta adalah atom (Hatta 1986). Pemikiran kosmosentrisme kemudian ditinggalkan oleh para filsuf Yunani setelah Democritus karena tidak mampu menjawab persoalan mendasar dari permasalahan manusia. Objek kajian filsafat k...

Ad-Din al-Islam sebagai Konsepsi Dasar Membangun Peradaban

Berbicara mengenai peradaban, para ahli masih berbeda pendapat mengenai definisi dari istilah peradaban. Peradaban sering diartikan sebagai kemajuan dari suatu bangsa. Jika kita menganggap peradaban sebagai kemajuan, baik kemajuan dari segi ekonomi maupun teknologi, maka sudah banyak bangsa yang telah mencapai peradabannya atau kemajuannya sendiri. Namun, pengertian dari peradaban sendiri ternyata tidak sesederhana itu. Peradaban juga bisa diartikan sebagai kebudayaan suatu bangsa yang beradab (kemajuan moral suatu bangsa). Jika kita melihat Peradaban Barat saat ini, yang mana merupakan tolok ukur dari suatu negara maju, tepatkah kita menyebut Bangsa Barat sebagai bangsa yang beradab? Yang mampu membangun kebudayaannya sendiri sehingga menjadi sebuah peradaban yang menjadi acuan moral bangsa-bangsa lain? Bertambahnya kemajuan di bidang teknologi, bertambah pula kerusakan di muka bumi. Seakan-akan jika ingin menjadi negara maju, maka harus rela merusak alam. Peradaban Barat saat ini...

Kebebasan Menurut Albert Camus #5

Absurdisme membawa konsekuensi pada pilihan hidup manusia. Menurut Camus, dalam menghadapi absurditas, manusia dihadapkan pada dua pilihan, yaitu bunuh diri atau menerima absurditas. Bunuh diri di sini dibedakan menjadi dua, yang pertama yaitu bunuh diri eksistensi dengan menghilangkan nyawa sendiri. Camus menyebut orang yang melakukan bunuh diri sebagai pengecut, karena baginya lari dari absurditas dengan menghilangkan nyawa sendiri berarti terjebak dalam keabsurdan, dia tidak menggunakan kebebasannya sendiri. Sedangkan bunuh diri yang kedua yaitu bunuh diri secara filosofis, artinya manusia menolak kemampuannya sendiri untuk memaknai kehidupan ini secara rasional dengan taklid kepada kepercayaan-kepercayaan agama dan ajaran filsafat. Meskipun Camus tidak menolak jenis bunuh diri yang kedua, tetapi menurutnya cara ini masih dilakukan secara setengah-setengah dan tidak radikal. Camus kemudian menawarkan cara yang ketiga, yaitu menerima keabsurdan hidup ini dengan memaknainya sesuai den...

Absurdisme Albert Camus #4

Seperti pada artikel sebelumnya, Albert Camus merupakan seorang filsuf yang termasuk ke dalam eksistensialisme ateis, di mana kebebasan sepenuhnya berada di tangan manusia, bukan Tuhan ataupun entitas yang lain. Albert Camus sangat terkenal dengan pemikirannya mengenai absurdisme, di mana menganggap kehidupan ini tidak bisa dimaknai secara pasti. Manusia tidak akan pernah sampai pada kesimpulan objektif mengenai kehidupan dunia. Usaha yang selama ini dilakukan oleh manusia untuk mencari kepastian dalam hidup adalah sia-sia dan berakhir dengan kegagalan. Satu-satunya yang pasti dalam hidup adalah kematian. Karena itu, menurut Camus selama ini manusia menjalani kehidupan yang absurd, yang tak bisa termaknai secara pasti karena kehidupan selalu berubah setiap waktunya.  Mitos Sisifus Untuk menggambarkan absurditas hidup ini, Camus menggunakan mitos Sisifus sebagai contohnya. Dalam mitos tersebut, Sisifus merupakan seorang raja yang diberi hukuman oleh Dewa Zeus untuk mendorong batu ke...

Berkenalan dengan Filsafat Eksistensialisme #3

Eksistensialisme berasal dari kata eksistensi, atau yang dalam bahasa Yunani disebut existere. Kata existere berasal dari kata ex yang berarti keluar dan sitter yang berarti membuat berdiri. Jadi, kata eksistensi secara bahasa berarti berdiri sendiri atau keluar dari diri sendiri.  Sedangkan kata isme berarti paham atau aliran.  Menurut pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya terpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah (Kemendikbud RI 2008). Eksistensialisme adalah paham atau aliran yang menjadikan manusia sebagai subjek sekaligus juga objek bagi dirinya sendiri. Dalam pengertian lain, eksistensialisme sangat menekankan keautentikan manusia (menjadi dirinya sendiri). Sejarah Filsafat Eksistensialisme Esksistensialisme pertama kali ditemukan oleh filsuf Denmark abad 19, Soren Abeye Kierkegaard. Pemikiran Kierkegaard sangat menek...

Selayang Pandang tentang Albert Camus #2

Albert Camus merupakan seorang sastrawan, dramawan, wartawan, esais, dan filsuf. Ia lahir pada 7 November 1913 di Mondovi, sebuah kota kecil di Aljazair, yang pada masa itu masih menjadi daerah jajahan Prancis. Albert Camus tumbuh dalam lingkungan keluarga yang miskin. Kurang dari setahun setelah kelahiran Albert Camus, ayahnya gugur dalam Perang Dunia I ketika terjadi Pertempuran Marne Pertama pada tahun 1914. Camus kemudian dibesarkan seorang diri oleh ibunya yang merupakan seorang keturunan Spanyol, Catherine Sintes, yang sehari-hari melakukan pekerjaan rumah tangga untuk menghidupi keluarganya. Camus bersama ibu dan kakak laki-lakinya kemudian pindah ke distrik kelas pekerja di Aljazair. Ketiganya tinggal bersama nenek dari pihak ibu dan seorang paman yang lumpuh. Kehidupan masa mudanya yang sulit ini diabadikan oleh Camus di dalam esainya yang berjudul L’Envers et I’endroit ( The Wrong Side and the Right Side ) pada tahun 1937 (Cruickshank 2023) . Pada tahun 1918 Albert Camus masu...

Sebuah Pengantar untuk Kebebasan #1

Manusia merupakan makhluk hidup yang berbeda dengan makhluk hidup lainnya; hal yang membedakannya ialah manusia memiliki akal untuk berpikir, sehingga dengan akal pikirannya itu manusia memiliki kehendak untuk menentukan kehidupan mereka sendiri. Manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak diartikan sebagai makhluk yang bebas, yang sadar akan kebebasannya sendiri. Namun, dalam realitanya, kebebasan manusia seringkali terhalang oleh kekuasaan, sehingga meskipun kebebasan merupakan hal yang melekat dalam diri manusia, mereka mesti memperjuangkan kebebasannya sendiri. Pada abad 20, kebebasan merupakan topik yang ramai didiskusikan. Adanya Perang Dunia I dan II mengakibatkan manusia pada masa itu kehilangan kebebasan individunya. Fenomena krisis kebebasan inilah yang kemudian menjadi persoalan para filsuf pasca modern untuk mendefinisikan kembali kebebasan manusia sebagai makhluk eksistensial. Persoalan eksistensial manusia di dalam pembahasan filsafat kemudian dikenal sebagai filsafat ...