Langsung ke konten utama

Sebuah Pengantar untuk Kebebasan #1

Manusia merupakan makhluk hidup yang berbeda dengan makhluk hidup lainnya; hal yang membedakannya ialah manusia memiliki akal untuk berpikir, sehingga dengan akal pikirannya itu manusia memiliki kehendak untuk menentukan kehidupan mereka sendiri. Manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak diartikan sebagai makhluk yang bebas, yang sadar akan kebebasannya sendiri. Namun, dalam realitanya, kebebasan manusia seringkali terhalang oleh kekuasaan, sehingga meskipun kebebasan merupakan hal yang melekat dalam diri manusia, mereka mesti memperjuangkan kebebasannya sendiri.

Pada abad 20, kebebasan merupakan topik yang ramai didiskusikan. Adanya Perang Dunia I dan II mengakibatkan manusia pada masa itu kehilangan kebebasan individunya. Fenomena krisis kebebasan inilah yang kemudian menjadi persoalan para filsuf pasca modern untuk mendefinisikan kembali kebebasan manusia sebagai makhluk eksistensial. Persoalan eksistensial manusia di dalam pembahasan filsafat kemudian dikenal sebagai filsafat eksistensialisme.

Filsafat eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang bertitik tolak dari eksistensi manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, makna dari pada eksistensi adalah pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar (Tambunan 2016). Salah satu filsuf eksistensialisme yang membahas masalah kebebasan adalah Albert Camus (1913–1960).

Albert Camus merupakan seorang filsuf eksistensialisme yang terkenal dengan pemikirannya mengenai absurdisme. Absurdisme merupakan suatu paham atau aliran yang didasarkan pada kepercayaan manusia bahwa usaha manusia untuk mencari arti dari kehidupan akan berakhir dengan kegagalan dan bahwa kecenderungan manusia untuk melakukan hal itu sebagai suatu yang absurd (Utami 2018).

Kegagalan manusia dalam memahami kehidupan inilah yang disebut oleh Camus sebagai absurd, di mana pemahaman manusia tidak pernah mencapai realitas yang pasti dari kehidupan ini. Upaya yang dapat dilakukan oleh manusia dalam menghadapi absurditas hidup adalah dengan menerimanya dan berjuang dari rasa putus asa.

Meskipun manusia tidak akan pernah menemukan makna yang pasti atau tujuan yang jelas dalam hidup mereka, mereka harus tetap berusaha untuk mencari makna dan menjalani hidup mereka dengan maksud yang mereka ciptakan sendiri (Nur 2019). Dalam hal ini, Camus menekankan pentingnya kebebasan bagi setiap individu untuk melawan keabsurdan hidup ini. Albert Camus mengartikan kebebasan sebagai kehendak manusia untuk melawan keabsurdan hidup dan menentukan makna bagi kehidupannya sendiri.



Daftar Pustaka:

Kemendikbud RI. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: PT Gramedia, 2008.

Nur, Muh. Yasin Ceh. Absurditas Manusia dalam Pandangan Filsafat Eksistensialisme Albert Camus. Makassar: Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, 2019.

Tambunan, Sihol Farida. “Kebebasan Individu Manusia Abad Dua Puluh: Filsafat Eksistensialisme Sartre .” Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 18 No. 2, 2016: 215-231.

Utami, Meistika Intan. Aliran Absurdisme dalam Karya Sastra. 14 Agustus 2018. https://alegorinai.wordpress.com (diakses Desember 2, 2023).


x

Komentar