Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Rencana Pembunuhan Tokoh Cerita

Berani sekali tokohku itu. Rupanya dia ingin menjadi musuh penulisnya sendiri. Aku tak tahu siapa yang antagonis di sini, tetapi apa yang sudah dilakukan tokohku itu adalah sebuah pemberontakan. Sebelumnya kuucapkan terima kasih karena kalian telah berkenan membaca cerita ini. Berkat kalian aku bisa hidup kembali, dan berkat kalian juga aku menjadi tahu bahwa hari ini seluruh kota memberitakan kematianku. Koran, televisi, radio, dan semua media-media di kota memberitakan kematianku yang tidak jelas penyebabnya. Banyak yang mengatakan kalau aku tewas bunuh diri, tapi banyak juga yang mengatakan kalau aku tewas dibunuh oleh seseorang. Aku juga tidak tahu pasti penyebab kematianku sendiri; apakah aku tewas karena bunuh diri ataukah ada seseorang yang tega menewaskanku, aku tidak tahu. Yang aku tahu, kalau saja subuh tadi aku masih hidup, aku akan digiring ke alun-alun kota untuk dieksekusi mati. Tapi belum sempat fajar menjelang, berita kematianku sudah tersebar di seluruh kota, bahkan ...

Sedikit Lagi, Kemudian Menyerah

Kawan, pernahkah dalam hidupmu merasa bahwa apa yang engkau minta tak akan terkabul? Di hari kemarin, saat dirimu menginginkan banyak sekali pinta; engkau senandungkan pintamu dalam setiap doa, rela bangun di sepertiga malam hanya untuk memohon kepada Sang Pencipta. Di hari kemarin, saat dirimu menginginkan masa depan yang lebih baik; engkau berusaha semaksimal mungkin agar segala doamu dapat terkabul, merasa nikmat dalam setiap ibadah yang engkau jalankan, merasa diri dekat dengan Sang Maha Pemberi. Kemudian, di suatu hari yang cerah, saat diri merasa lelah; engkau memilih menyerah. Engkau menyerah karena merasa doamu tak pernah terkabul, merasa bahwa Allah tak akan memberi apa yang engkau minta. Kemudian, engkau pun mulai meninggalkan Tahajud yang setiap malam dikerjakan. Doamu yang dulu panjang, kini hanya tinggal menjadi angan-angan. Shalatmu yang dulu khusyuk, kini hanya sebatas kewajiban. Pernahkah kau merasa seperti itu, kawan? Pernahkah terpikir dalam dirimu, bahwa Allah sudah ...

Eskapisme

Bunyi dentuman bom menggelegar hingga ke seluruh negeri. Roket-roket terbang bak meteor menghantam bumi. Jerit tangis anak-anak dan perempuan mengundang hati siapa saja yang mendengarnya sedih berempati. Tak terkecuali mereka yang sama-sama disatukan dalam iman, walaupun berbeda darah dan negara. Hati ini bak disayat pisau melihat kebiadaban zionis Israel. Nyawa keluar dari jasadnya, anak-anak dipisahkan dari orang tuanya, perempuan diambil paksa oleh mereka yang dulunya pernah menjadi kera. Wahai manusia yang dipilih Allah menjadi Muslim di buminya ini, sedihkah kau mendengarnya? Apakah hatimu sudah terlena dengan nikmatnya fiksi dunia? Menganggap dunia ini sedang baik-baik saja? Kiblat pertama kita dijadikan tempat orang Yahudi laknatullah menembakkan senapan-senapannya, dijadikan tempat mendaratnya peluru-peluru mereka yang menghancurkan, di tengah kekhusyuk'an shalat yang menenangkan. Masihkah hatimu dilenakan dengan tidur panjang eskapisme? Lari dari kenyataan yang menyakitkan...

Surat Cinta untuk Toilet

Toilet, sebuah ruangan kecil yang sangat penting bagi kehidupan. Engkaulah yang selalu ada di saat setiap orang membutuhkanmu, walau hanya sesaat--setelah itu, engkau pun kembali dilupakan. Tak hanya sampai di situ, engkau pun tak luput sebagai bahan perdebatan tentang kenyamanan antara toilet duduk atau jongkok. Atau para banci yang kebingungan memilih toilet lelaki ataukah perempuan. Oh, sungguh malang nasibmu. Toilet, meskipun engkau dikatakan sebagai 'Sarang Demit', tapi aku selalu percaya bahwa banyak mahakarya yang lahir dari rahimmu. Engkaulah ladang imajinasi bagi para seniman untuk selalu berkarya dan bertahan hidup. Bahkan dindingmu tak luput dari segala coretan kreativitas para pengunjungmu; mulai dari Budi love Ani, lukisan objek vital yang amat berseni, sampai karikatur para pemimpin negeri. Semua berlomba untuk mengabadikan dan menjadikannya sebagai prasasti bersejarah. Aku selalu berpikir, apakah Plato mendapat ide tentang Republik dari singgasanamu, Toilet? Atau...

Penyesalan

 Andaikan dulu aku bisa menahan nafsu untuk tak mengungkapkannya. O, alangkah jauh sudah jalan yang kutempuh. Andaikan dulu aku tak mengikuti kehendak syahwat, mungkin lain sudah hasil yang kuterima. Hai penyesalan, itukah engkau? Lihatlah! Kini aku berjalan mendekatimu, dan sekarang, kau membawaku ke dalam lorong kegelapan. Kau bagaikan angin yang menipu lewat ayunan syahdu, tapi perlahan, kau malah membabat daun-daun untuk jatuh berguguran, dan menjadikan pohonnya tandus bagai rumah tak bertuan. Ya, begitulah aku saat ini. Hancur. Kosong. Tak berjiwa!  Tahukah kau? Saat kau hadir dalam hidupku, aku seakan berjalan di lorong kesunyian. Hidupku seakan tak berguna lagi di dunia ini. Sunyi. Hampa. Tak berarti. Oh, alangkah malangnya nasibku kini. Pergilah kau penyesalan! Pergilah kau kemana pun kau suka, asalkan dunia tak mampu menemukanmu. Atau, pergilah kau kepada tikus-tikus berdasi, agar sejahteralah negeri ini.  O, tidak-tidak ... bukan maksudku untuk mengkritik negara...

Takut

  Takut Hitam-putih, benar-salah: Gak ada penengah Saya takut Hidup bagai di dalam tirai Dibungkus keindahan dan  kefanaan: dipertontonkan  pada mereka yang punya kuasa Jangan paksa saya makan  rumput, kalau mesti pisah  dengan saudara Saya gak butuh duit Tapi jangan telantarkan saya Kumpulkan orang di tanah  lapang, suruh mereka  nyanyi yang sunyi Jangan berisik!  Saya gak lapar Saya gak suka berantem,  saya gak suka menghakimi Cukup diam yang sunyi Saya takut

Cermin Tua

Kasihan sekali perempuan itu, dia takut dikejar oleh waktu. "Selain rokok, waktu juga dapat membunuhmu." katanya.  Sama seperti biasanya, di pagi buta ini, dia sudah rindu pada air. Tubuhnya selalu merasa tenang saat berada di dalam air. Air baginya adalah kebutuhan hidup. Tanpa air, ia tidak bisa melanjutkan pekerjaan.  Selain air, perempuan itu juga bersahabat baik dengan cermin tua di kamarnya. Cermin tua itu sudah ia anggap sebagai bagian dari dirinya. Karena setiap hari, cermin itu selalu menjadi tempat bayangannya berdiam diri. Air dan cermin baginya adalah teman kecantikan. Air ia gunakan untuk membersihkan diri, cermin ia gunakan untuk mencantikan diri.  Ia benci sekali pada waktu, tapi ia tahu bahwa waktu dan kecantikan adalah suatu hal yang saling berkaitan. Kecantikannya pudar karena waktu, tapi waktu juga yang membuatnya cantik. Lama sekali ia bersolek diri di depan cermin tuanya. Adakalanya ia benci pada cermin tua itu, karena tak bisa memberinya kepuasan hat...

Gadis yang Memanjat Pohon Kelapa

Gadis yang Memanjat Pohon Kelapa : Ibu     Ia seorang gadis pemberani yang tinggal di lereng Bukit Pranji. Masa kecilnya dibesarkan oleh negara yang sedang mengaum seperti serigala.   Pada suatu pagi hari, hatinya yang penuh nyali bertekad memanjat pohon kelapa untuk ia hadiahkan kepada orang tuanya.   Bertahun-tahun ia memanjat pohon itu. Masa mudanya habis dikikis lambaian angin pohon kelapa yang dipanjatnya.   Ibunya hanya memandangnya dari depan jendela, sambil berkata, “Ayo, Nak, turunlah! Negara sebentar lagi akan memberi kita buah kelapa.”   “Tidak, Bu. Negara tidak mau bersusah payah pada orang susah seperti kita.”   Ketika sudah mencapai puncak pohon, ia petik kelapa itu dan meminum  airnya  untuk mengobati sakitnya  yang telah lelah.

Aku dan Waktu

Aku tak tahu bagaimana dunia ini berjalan; apakah aku sedang hidup di dalam bumi atau aku sedang hidup di dalam waktu? Aku tak tahu. Membingungkan. Aku pun tak mengerti bagaimana waktu berjalan. Adakalanya aku dan waktu berjalan beriringan, sesekali waktu yang mengejarku, dan di waktu lain, aku yang mengejar waktu. Aku ingin berbicara dengan sang waktu; mengapa ia selalu jahat padaku, mengapa aku yang selalu ditinggalkannya? O, atau mungkin aku yang meninggalkan waktu?  Aku tak takut menyalahkan waktu. Toh, ia juga ciptaan Tuhan sama sepertiku: kadang benar, kadang salah. Bukankah akhirnya waktu juga akan mati seiring berjalannya waktu? "Berjalannya waktu", kalimat apa itu? Cukup membingungkan bagiku. Bukankah selama ini waktu hanya diam? Toh, dia juga tak peduli padaku. Tapi, mengapa waktu selalu diperjuangkan bagi mereka yang selalu memperjuangkan hidup? Ya, aku mengakui, kadang aku juga suka menunggu waktu di rumah kesibukan; berharap sesekali waktu berhenti untuk menunggu...

PENYAKIT

 Di suatu masjid yang sepi para jamaah disibukkan dengan kegiatan dorong-mendorong menjadi imam, siapa yang bernyali banyak dia yang jadi pemenangnya.  Kegiatan rutin ini didominasi oleh para jamaah yang sudah tak muda lagi usianya. Dan sering terjadi ketika imam tetap tak sempat mengikuti sholat berjamaah. Tunjuk sana, tunjuk sini, tetap saja para jamaah tak ada yang bernyali. Seorang pemuda yang baru setengah matang umurnya hanya terdiam sambil melirik para orang tua yang tak akan ada habisnya bermain dorong-dorongan. Sampai kemudian ia nekat, walau dalam hatinya merasa ini akan sedikit melanggar kesopanan.  Dia melewati para tetua, berdiri di posisi imam. Dimulailah takbiratul ihram sampai kemudian ia melantunkan bacaan Qur'annya. Lembut betul suaranya, nada-nada indah keluar dengan syahdunya pada setiap huruf. Tajwidnya tepat, hapalannya kuat. Para jamaah terasa terhipnotis sehingga mereka sholat dengan khusyuk hingga salam terakhir. Dari contoh kejadian di atas, adak...