Toilet, sebuah ruangan kecil yang sangat penting bagi kehidupan. Engkaulah yang selalu ada di saat setiap orang membutuhkanmu, walau hanya sesaat--setelah itu, engkau pun kembali dilupakan.
Tak hanya sampai di situ, engkau pun tak luput sebagai bahan perdebatan tentang kenyamanan antara toilet duduk atau jongkok. Atau para banci yang kebingungan memilih toilet lelaki ataukah perempuan. Oh, sungguh malang nasibmu.
Toilet, meskipun engkau dikatakan sebagai 'Sarang Demit', tapi aku selalu percaya bahwa banyak mahakarya yang lahir dari rahimmu.
Engkaulah ladang imajinasi bagi para seniman untuk selalu berkarya dan bertahan hidup. Bahkan dindingmu tak luput dari segala coretan kreativitas para pengunjungmu; mulai dari Budi love Ani, lukisan objek vital yang amat berseni, sampai karikatur para pemimpin negeri. Semua berlomba untuk mengabadikan dan menjadikannya sebagai prasasti bersejarah.
Aku selalu berpikir, apakah Plato mendapat ide tentang Republik dari singgasanamu, Toilet? Atau Karl Marx yang berhasil menemukan pemikiran Sosialis-Komunisnya. Entahlah, aku pun tak tahu.
Yang kutahu, engkaulah saksi bagaimana demokrasi tak berjalan dengan baik. Mereka yang takut suaranya dibungkam, memilih untuk mengumpat di balik dinding toilet--bahkan mengabadikannya sebagai coretan di prasasti bersejarah.
Toilet, tolong sampaikan salam rinduku pada bekas kotoranku yang telah kau kandung. Bagaimanapun juga, mereka pernah menjadi bagian dari diriku.
Oh toilet, dengan segala hormat dan cintaku padamu, kuucapkan terima kasih telah menjadi tempat lahirnya tulisan ini.[ ]
Tangerang, 2 April 2021
Komentar
Posting Komentar