Bunyi dentuman bom menggelegar hingga ke seluruh negeri. Roket-roket terbang bak meteor menghantam bumi. Jerit tangis anak-anak dan perempuan mengundang hati siapa saja yang mendengarnya sedih berempati.
Tak terkecuali mereka yang sama-sama disatukan dalam iman, walaupun berbeda darah dan negara. Hati ini bak disayat pisau melihat kebiadaban zionis Israel. Nyawa keluar dari jasadnya, anak-anak dipisahkan dari orang tuanya, perempuan diambil paksa oleh mereka yang dulunya pernah menjadi kera.
Wahai manusia yang dipilih Allah menjadi Muslim di buminya ini, sedihkah kau mendengarnya? Apakah hatimu sudah terlena dengan nikmatnya fiksi dunia? Menganggap dunia ini sedang baik-baik saja?
Kiblat pertama kita dijadikan tempat orang Yahudi laknatullah menembakkan senapan-senapannya, dijadikan tempat mendaratnya peluru-peluru mereka yang menghancurkan, di tengah kekhusyuk'an shalat yang menenangkan. Masihkah hatimu dilenakan dengan tidur panjang eskapisme? Lari dari kenyataan yang menyakitkan?
"Ganti bajumu dengan kain kafan!" ujar Buya Hamka suatu ketika, "bila diam melihat Islam dilecehkan!" Mari kawan, mulailah dengan hal-hal kecil; pelajari Al-Qur'an, hafalkan isinya, beritahu pada orang-orang bahwa masih ada negara di dunia ini, yang berada dalam kejamnya penjajahan.
Kawan, mungkin tulisan ini hanya sebagian kerikil kecil dalam sebuah pondasi Islam yang kokoh. Tapi saya berharap, engkau adalah saksi bahwa saya berdiri bersama Islam dan kemanusiaan. Dan saya lebih berharap, bahwa engkau, adalah sebuah batu bata yang apabila disatukan akan memperkuat pondasi yang sudah dibangun ini.
Aku berharap, dengan tulisan ini, engkau lebih baik dari yang saya perbuat saat ini. Jadilah batu bata itu, Kawan. Yang apabila dirubuhkan sebagiannya, maka hancurlah bangunan itu. Tetap suarakan keadilan, berdiri dalam persatuan. Because, we stand with Palestine! Allahu Akbar!
Tangerang, 12 Mei 2021
Komentar
Posting Komentar