Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Sedikit Lagi, Kemudian Menyerah

Kawan, pernahkah dalam hidupmu merasa bahwa apa yang engkau minta tak akan terkabul? Di hari kemarin, saat dirimu menginginkan banyak sekali pinta; engkau senandungkan pintamu dalam setiap doa, rela bangun di sepertiga malam hanya untuk memohon kepada Sang Pencipta. Di hari kemarin, saat dirimu menginginkan masa depan yang lebih baik; engkau berusaha semaksimal mungkin agar segala doamu dapat terkabul, merasa nikmat dalam setiap ibadah yang engkau jalankan, merasa diri dekat dengan Sang Maha Pemberi. Kemudian, di suatu hari yang cerah, saat diri merasa lelah; engkau memilih menyerah. Engkau menyerah karena merasa doamu tak pernah terkabul, merasa bahwa Allah tak akan memberi apa yang engkau minta. Kemudian, engkau pun mulai meninggalkan Tahajud yang setiap malam dikerjakan. Doamu yang dulu panjang, kini hanya tinggal menjadi angan-angan. Shalatmu yang dulu khusyuk, kini hanya sebatas kewajiban. Pernahkah kau merasa seperti itu, kawan? Pernahkah terpikir dalam dirimu, bahwa Allah sudah ...

Eskapisme

Bunyi dentuman bom menggelegar hingga ke seluruh negeri. Roket-roket terbang bak meteor menghantam bumi. Jerit tangis anak-anak dan perempuan mengundang hati siapa saja yang mendengarnya sedih berempati. Tak terkecuali mereka yang sama-sama disatukan dalam iman, walaupun berbeda darah dan negara. Hati ini bak disayat pisau melihat kebiadaban zionis Israel. Nyawa keluar dari jasadnya, anak-anak dipisahkan dari orang tuanya, perempuan diambil paksa oleh mereka yang dulunya pernah menjadi kera. Wahai manusia yang dipilih Allah menjadi Muslim di buminya ini, sedihkah kau mendengarnya? Apakah hatimu sudah terlena dengan nikmatnya fiksi dunia? Menganggap dunia ini sedang baik-baik saja? Kiblat pertama kita dijadikan tempat orang Yahudi laknatullah menembakkan senapan-senapannya, dijadikan tempat mendaratnya peluru-peluru mereka yang menghancurkan, di tengah kekhusyuk'an shalat yang menenangkan. Masihkah hatimu dilenakan dengan tidur panjang eskapisme? Lari dari kenyataan yang menyakitkan...

Surat Cinta untuk Toilet

Toilet, sebuah ruangan kecil yang sangat penting bagi kehidupan. Engkaulah yang selalu ada di saat setiap orang membutuhkanmu, walau hanya sesaat--setelah itu, engkau pun kembali dilupakan. Tak hanya sampai di situ, engkau pun tak luput sebagai bahan perdebatan tentang kenyamanan antara toilet duduk atau jongkok. Atau para banci yang kebingungan memilih toilet lelaki ataukah perempuan. Oh, sungguh malang nasibmu. Toilet, meskipun engkau dikatakan sebagai 'Sarang Demit', tapi aku selalu percaya bahwa banyak mahakarya yang lahir dari rahimmu. Engkaulah ladang imajinasi bagi para seniman untuk selalu berkarya dan bertahan hidup. Bahkan dindingmu tak luput dari segala coretan kreativitas para pengunjungmu; mulai dari Budi love Ani, lukisan objek vital yang amat berseni, sampai karikatur para pemimpin negeri. Semua berlomba untuk mengabadikan dan menjadikannya sebagai prasasti bersejarah. Aku selalu berpikir, apakah Plato mendapat ide tentang Republik dari singgasanamu, Toilet? Atau...

Penyesalan

 Andaikan dulu aku bisa menahan nafsu untuk tak mengungkapkannya. O, alangkah jauh sudah jalan yang kutempuh. Andaikan dulu aku tak mengikuti kehendak syahwat, mungkin lain sudah hasil yang kuterima. Hai penyesalan, itukah engkau? Lihatlah! Kini aku berjalan mendekatimu, dan sekarang, kau membawaku ke dalam lorong kegelapan. Kau bagaikan angin yang menipu lewat ayunan syahdu, tapi perlahan, kau malah membabat daun-daun untuk jatuh berguguran, dan menjadikan pohonnya tandus bagai rumah tak bertuan. Ya, begitulah aku saat ini. Hancur. Kosong. Tak berjiwa!  Tahukah kau? Saat kau hadir dalam hidupku, aku seakan berjalan di lorong kesunyian. Hidupku seakan tak berguna lagi di dunia ini. Sunyi. Hampa. Tak berarti. Oh, alangkah malangnya nasibku kini. Pergilah kau penyesalan! Pergilah kau kemana pun kau suka, asalkan dunia tak mampu menemukanmu. Atau, pergilah kau kepada tikus-tikus berdasi, agar sejahteralah negeri ini.  O, tidak-tidak ... bukan maksudku untuk mengkritik negara...

Takut

  Takut Hitam-putih, benar-salah: Gak ada penengah Saya takut Hidup bagai di dalam tirai Dibungkus keindahan dan  kefanaan: dipertontonkan  pada mereka yang punya kuasa Jangan paksa saya makan  rumput, kalau mesti pisah  dengan saudara Saya gak butuh duit Tapi jangan telantarkan saya Kumpulkan orang di tanah  lapang, suruh mereka  nyanyi yang sunyi Jangan berisik!  Saya gak lapar Saya gak suka berantem,  saya gak suka menghakimi Cukup diam yang sunyi Saya takut