Andaikan dulu aku bisa menahan nafsu untuk tak mengungkapkannya. O, alangkah jauh sudah jalan yang kutempuh. Andaikan dulu aku tak mengikuti kehendak syahwat, mungkin lain sudah hasil yang kuterima.
Hai penyesalan, itukah engkau? Lihatlah! Kini aku berjalan mendekatimu, dan sekarang, kau membawaku ke dalam lorong kegelapan.
Kau bagaikan angin yang menipu lewat ayunan syahdu, tapi perlahan, kau malah membabat daun-daun untuk jatuh berguguran, dan menjadikan pohonnya tandus bagai rumah tak bertuan. Ya, begitulah aku saat ini. Hancur. Kosong. Tak berjiwa!
Tahukah kau? Saat kau hadir dalam hidupku, aku seakan berjalan di lorong kesunyian. Hidupku seakan tak berguna lagi di dunia ini. Sunyi. Hampa. Tak berarti. Oh, alangkah malangnya nasibku kini.
Pergilah kau penyesalan! Pergilah kau kemana pun kau suka, asalkan dunia tak mampu menemukanmu. Atau, pergilah kau kepada tikus-tikus berdasi, agar sejahteralah negeri ini.
O, tidak-tidak ... bukan maksudku untuk mengkritik negara. Aku pun tak mau menyesal masuk penjara, Kawan. Tidak! Bukan itu maksudku.
Aku hanya ingin memberitahumu, Kawan. Karena penyesalanlah aku perlahan untuk belajar dewasa, dan mencoba berdamai bersama jalannya masa.
Menyakitkan? Oh tentu. Tapi bukankah lebih menyakitkan bila kita terus berjalan bersama penyesalan? Mungkin memang begitulah penyesalan bekerja, ia hadir seakan memberi hikmah bagi siapa saja yang mentadabburinya.
Sungguh terbuktilah perkataan seorang bijak, "Apabila sebuah penyesalan merupakan sebuah pengalaman, maka hikmah adalah sebuah hal besar yang terkandung di dalamnya."
Tangerang, 17 Maret 2021
Komentar
Posting Komentar