Langsung ke konten utama

Cermin Tua

Kasihan sekali perempuan itu, dia takut dikejar oleh waktu. "Selain rokok, waktu juga dapat membunuhmu." katanya. 

Sama seperti biasanya, di pagi buta ini, dia sudah rindu pada air. Tubuhnya selalu merasa tenang saat berada di dalam air. Air baginya adalah kebutuhan hidup. Tanpa air, ia tidak bisa melanjutkan pekerjaan. 

Selain air, perempuan itu juga bersahabat baik dengan cermin tua di kamarnya. Cermin tua itu sudah ia anggap sebagai bagian dari dirinya. Karena setiap hari, cermin itu selalu menjadi tempat bayangannya berdiam diri.

Air dan cermin baginya adalah teman kecantikan. Air ia gunakan untuk membersihkan diri, cermin ia gunakan untuk mencantikan diri. 

Ia benci sekali pada waktu, tapi ia tahu bahwa waktu dan kecantikan adalah suatu hal yang saling berkaitan. Kecantikannya pudar karena waktu, tapi waktu juga yang membuatnya cantik.

Lama sekali ia bersolek diri di depan cermin tuanya. Adakalanya ia benci pada cermin tua itu, karena tak bisa memberinya kepuasan hati. 

Ia benci mengapa cermin itu semakin lama malah semakin membuatnya tua. Ia merasa cermin adalah pelayan kecantikan, yang harus selalu membuatnya terlihat muda dan cantik. Ia juga benci pada bayangannya, mengapa bayangannya tidak selalu menampilkan kecantikannya di depan cermin?

Ia sadar cermin tua itu usianya hampir sama seperti dirinya. Dulu cermin itu selalu memanjakannya dengan kemudaan, tapi sekarang, cermin itu malah menghinakannya dengan ketuaan. Kini wajah tuanya membuatnya kehilangan pekerjaan. Tak ada lagi duit yang mau membayar kecantikannya.

Perlahan ia mati di depan cermin tuanya karena kemiskinan dan kesedihan.


Komentar