Berani sekali tokohku itu. Rupanya dia ingin menjadi musuh penulisnya sendiri. Aku tak tahu siapa yang antagonis di sini, tetapi apa yang sudah dilakukan tokohku itu adalah sebuah pemberontakan.
Sebelumnya kuucapkan terima kasih karena kalian telah berkenan membaca cerita ini. Berkat kalian aku bisa hidup kembali, dan berkat kalian juga aku menjadi tahu bahwa hari ini seluruh kota memberitakan kematianku. Koran, televisi, radio, dan semua media-media di kota memberitakan kematianku yang tidak jelas penyebabnya. Banyak yang mengatakan kalau aku tewas bunuh diri, tapi banyak juga yang mengatakan kalau aku tewas dibunuh oleh seseorang. Aku juga tidak tahu pasti penyebab kematianku sendiri; apakah aku tewas karena bunuh diri ataukah ada seseorang yang tega menewaskanku, aku tidak tahu.
Yang aku tahu,
kalau saja subuh tadi aku masih hidup, aku akan digiring ke alun-alun kota
untuk dieksekusi mati. Tapi belum sempat fajar menjelang, berita kematianku
sudah tersebar di seluruh kota, bahkan di seluruh penjuru negeri. Tiang gantung
yang seharusnya menjadi tempat aku dieksekusi, hari ini menjadi tempelan berita
kematianku.
Aku bersyukur
bisa merasakan kehidupan kembali, tetapi entah mengapa hatiku selalu merasa
bahwa aku sangat menginginkan kematianku kembali. Aku merasa seperti orang
asing yang terus mengembara dari satu cerita ke cerita yang lain hanya untuk
mengulangi takdir kematianku. Mengulangi takdir kematian yang masih menjadi
misteri. Siapa yang membunuhku? Apakah aku sendiri atau ada orang lain yang
membunuhku?
Sebelum aku
mati terbunuh dan hidup kembali, aku adalah seorang penulis ternama yang sudah
menerbitkan banyak buku. Tapi setelah negara tahu bahwa aku mengikuti sebuah
gerakan yang katanya sangat berbahaya, karya-karyaku langsung menjadi
permasalahan negara. Negara menuduh buku-bukuku berisi cerita-cerita yang provokatif
dan sangat berlawanan dengan kebijakan negara. Pergerakanku dibatasi dan semua
karya tulisku ditarik dari peredaran.
Coba saja
kalian datang ke toko-toko buku terdekat, tentu kalian tidak akan menemukan
buku-buku yang menurut negara banyak berisi kritikan dan sindiran. Semua
buku-buku seperti itu sudah ditarik dari peredaran, dan jika kalian
menyadarinya, buku-buku yang dijual di pasaran hanyalah buku-buku yang isinya
menjilat-jilat pemerintah. Jijik sekali, bukan? Mungkin negara ingin aku
menulis buku yang tidak membahayakan bagi siapa pun, seperti buku resep
masakan?
Kalau
dipikir-pikir kembali lucu juga apa yang dilakukan oleh negara. Negara menyuruh
rakyatnya bekerja, tetapi setelah rakyatnya bekerja dan menghasilkan karya,
justru rakyat malah dibatasi gerak-geriknya.
Negara giat
sekali menarik buku-buku yang tidak sesuai dengan kebijakannya, tetapi bersikap
sebaliknya ketika menghadapi buku-buku bajakan. Buku-buku bajakan bebas
berkeliaran di pasaran, termasuk juga buku-bukuku yang tak luput terkena
pembajakan oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab dan hanya mementingkan
duit.
Aku jadi
teringat ketika dulu masih seorang mahasiswa yang aktif menjadi aktivis
literasi di kampus. Aku mengajak teman-temanku sesama penulis dan
komunitas-komunitas literasi lainnya untuk mendesak pemerintah membuat undang-undang
mengenai hak cipta. Dulu negara sama sekali tidak menghiraukan hak-hak para
pekerja seni yang karyanya terus-menerus dibajak. Itulah yang membuatku
tergerak untuk segera mendesak pemerintah membuat peraturan terhadap pembajakan
karya.
Dan usaha kami
tidak sia-sia. Tak berapa lama setelah itu, pemerintah mengeluarkan
undang-undang mengenai hak cipta. Meskipun tuntutan kami telah dituruti oleh
negara, tetapi rasanya tetap sama saja: negara justru membuat sulit orang-orang
yang melaporkan karyanya sendiri.
Mengingat
kembali perbuatan negara terhadapku membuatku menjadi merasa tak tenang. Aku
menjadi mudah tersulut emosi, bahkan tak segan memukul orang yang membuatku
kesal. Seperti beberapa hari lalu ketika aku sedang berjalan terburu-buru
dengan secara tiba-tiba ada seorang pengemis yang mencegatku. Pengemis itu
mengenakan pakaian yang sangat lusuh dan kotor, entah mungkin karena pengemis
itu hanya memiliki satu pakaian saja atau ia berpura-pura mengenakan pakaian yang
lusuh agar dikasihani.
Badannya kurus
dan kalau berjalan selalu membungkuk. Kepalanya kecil dan lonjong. Di sekitar
pipinya ada banyak sekali luka. Setelah pengemis itu berada di dekatku, ia
langsung menodongkan tangan kecilnya ke hadapanku. “Tolong, tolong saya,
sudah beberapa hari ini saya belum makan. Tolong, tolonglah saya.” katanya
memelas. “Saya sudah tidak punya penghasilan lagi, tempat tidur pun hanya
beralaskan kardus-kardus bekas. Tolong kasihanilah saya.”
Saat itu bukan
aku tidak ingin memberi uang pada pengemis itu, tetapi memang aku sedang tidak memegang
uang sama sekali. Lagipula saat itu aku sedang terburu-buru menemui editorku
untuk membahas novel yang akan segera diterbitkan. Aku sama sekali tidak
menghiraukannya dan terus saja berjalan meninggalkannya.
Pengemis itu
terus saja mengikutiku. Ia terus meminta-minta dengan suara memelas. Mungkin
jika saat itu kalian berada bersamaku, pasti kalian akan tertawa sekaligus kesal
melihat raut mukanya yang dia jelek-jelekkan sendiri.
Karena sudah
terlalu kesal dan pengemis itu masih terus saja mengikutiku, aku langsung
memberinya pelajaran dengan memukul kepalanya menggunakan ujung ikat pinggangku.
Walau hanya sekali aku memukul kepalanya, tetapi setidaknya itu cukup membuat kepalanya
memar dan berhenti mengikutiku.
Sedikit cerita,
usahaku menjadi seorang penulis seperti sekarang ini banyak sekali kendalanya.
Sedari kecil, aku senang sekali menulis puisi dan cerita. Tetapi orang tuaku
tidak pernah setuju dengan kegemaranku menulis.
Menurut mereka,
seorang penulis atau sastrawan tidak pernah mempunyai penghasilan yang tetap.
Selain itu–kata orang tuaku–perangai seorang penulis juga sangat buruk di
masyarakat. Setiap Ibu melihatku sedang menulis cerita atau puisi, Ibu langsung
memarahiku dan merobek-robek kertas hasil tulisanku.
Aku teringat
ucapan Ibu dalam kemarahannya, “Penulis itu hidupnya tidak pernah benar.
Kerjaannya kalau tidak menulis, pasti mabuk-mabukkan sepanjang malam. Kalau
honor baru turun, pasti langsung pergi ke rumah-rumah bordil. Coba kaulihat itu
si Chairil Anwar, memangnya kau kira sajak-sajak liarnya itu lahir karena
mendapat wangsit dan duduk-duduk di dalam kamar? Ayolah dengarkan Ibumu,
belajar saja kau yang benar, agar kelak Ibu melihatmu menjadi pegawai negeri
atau setidaknya pekerjaan yang hasilnya meyakinkan!”
Kalau Ibu sudah
berkata seperti itu, aku langsung bergegas ke dalam kamar dan mengunci pintu. Menulis
cerita tentang Ibu yang berubah menjadi monster menyeramkan yang siap
menghalangi dan memakanku jika aku ketahuan ingin mengambil cincin yang
dijaganya.
Aku keras kepala.
Aku terus saja melanjutkan hobi menulisku hingga akhirnya beberapa karyaku
dimuat di berbagai media. Rasa semangat menulisku menjadi meluap-luap, aku menjadi
makin produktif menghasilkan karya tulis. Lebih tepatnya setelah Ibu meninggal.
Mengingat sikap
negara terhadapku–atau lebih tepatnya terhadap buku-bukuku– mendorong aku untuk
menulis sebuah cerita yang bertujuan untuk menyindir segala kebijakan-kebijakan
negara. Apa salahnya? Bukankah menulis adalah aktivitas yang berawal dari
keresahan? Dan inilah keresahanku.
Walaupun
suasana hatiku sedang tidak lagi tenang seperti dulu, tetapi melihat negara
yang bersikap seenaknya saja kepadaku tidak akan menyurutkan semangatku untuk
menuliskan cerita ini. Mau bagaimana lagi? Hanya menulis yang bisa dilakukan
oleh seorang penulis. Kalau aku seorang petinju, mungkin lain lagi apa yang kulakukan
terhadap negara.
***
Jujur saja,
menjadi seorang tokoh cerita yang menceritakan ceritanya sendiri lebih
menyulitkan daripada penulis ceritanya sendiri. Jadi, ya ... mulai dari mana,
ya, cerita ini akan saya mulai? Saya kan dilahirkan dengan tiba-tiba oleh
penulis saya. Tiba-tiba saja sudah menjadi dewasa dan bisa berbicara. Jadi, mau
bagaimana lagi? Karena saya sudah diberikan kelebihan dapat berbicara dan
bercerita, mungkin bisa kita mulai cerita ini dari perkenalan tentang diri saya
terlebih dahulu.
Salam kenal, saya
seorang penulis, atau mungkin bisa disebut juga seorang sastrawan. Entahlah,
terserah kalian saja maunya bagaimana, saya kan hanya tokoh cerita. Tetapi di
cerita ini saya akan menyebut diri saya sebagai penulis saja, menyandang gelar
sastrawan sangat berat bagi saya. Maklum, saya orangnya rendah hati dan sederhana.
Kata penulis
saya, semenjak kecil saya itu orangnya senang sekali bercerita dan menulis.
Saya adalah orang yang paling ditunggu-tunggu oleh kawan-kawan saya ketika
bermain. Biasanya, sehabis bermain kawan-kawan saya selalu menyuruh saya untuk
bercerita tentang apa saja sebagai pelipur lara. Bahkan di sekolah pun, saya
dijuluki sebagai pembual ulung, karena selalu berhasil mengelabuhi guru dengan
berbagai alasan ketika saya telat masuk sekolah. Kata penulis saya sih begitu.
Saya menurut saja, wong saya kan tiba-tiba saja langsung dewasa ketika
dilahirkan. Jadi, saya tidak ingat dan tidak tahu tentang masa kecil saya.
Ketika sudah
menjadi mahasiswa, aktivitas menulis saya semakin menjadi-jadi. Karya-karya
tulis saya, seperti cerpen dan puisi sudah banyak dimuat di berbagai media.
Beberapa novel saya pun sudah banyak yang dibukukan.
Aduh, kok saya
malah jadi pamer. Maaf, ya, bukan maksud saya membanggakan diri, tapi kan saya
memang tokoh cerita, kalau saya tidak cerita, lantas bagaimana ceritanya?
Sebagai penulis
yang aktif, saya juga berperan aktif sebagai aktivis literasi. Banyak yang
sudah saya lakukan untuk mengembangkan dunia literasi di negara ini; seperti
contohnya membangun taman baca di pelosok-pelosok negeri.
Hal lain yang
sudah kami lakukan sebagai aktivis literasi adalah menuntut pemerintah untuk
mengeluarkan peraturan mengenai hak cipta. Di sini, banyak sekali buku-buku
yang dibajak oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab.
Usaha kami pun
tidak sia-sia. Tak berapa lama, pemerintah mengumumkan peraturan tentang hak
cipta. Walaupun pemerintah telah memberi sanksi yang berat bagi para pelaku
pembajakan, tapi tetap saja para pembajak buku masih banyak yang berkeliaran di
pasar dan jalanan. Bahkan dari pemerintah sendiri pun terkesan mempersulit para
seniman yang melaporkan karya-karyanya sendiri. Termasuk saya yang pernah
melaporkan karya-karya saya.
Tahun demi
tahun terus berjalan. Buku-buku saya semakin banyak yang diterbitkan dan
dicetak ulang. Saya sangat senang sekali, aktivitas menulis saya ternyata
membuahkan hasil. Tidak hanya itu, nama saya juga sudah dapat disandingkan
dengan nama-nama penulis ternama. Ah, sebagai orang yang sederhana, rasanya
tidak pantas saya mendapatkan penghargaan setinggi itu.
Awalnya masih
nyaman-nyaman saja. Tapi tak berapa lama setelah itu, negara mencurigai sebuah
gerakan baru yang katanya bertujuan untuk melawan pemerintah. Gerakan itu sudah
menyebar ke seluruh negeri, pengikutnya pun makin hari makin banyak. Tak
terkecuali saya yang juga bergabung dengan gerakan itu, lebih tepatnya
bergabung ke dalam bagian seninya. Awalnya saya hanya mengikuti ajakan seorang
teman, katanya gerakan itu akan menjadi sebuah gerakan yang sukses. Kalau saya
bergabung ke dalam bagian seninya, karya-karya saya akan didukung oleh gerakan,
dan pastinya bakal laku. Saya hanya menurut saja, karena tawaran itu sangat
menggiurkan bagi seorang penulis muda seperti saya.
Tak membutuhkan
waktu lama bagi negara untuk mengetahui bahwa saya termasuk salah seorang
seniman yang bergabung dalam gerakan itu. Buku-buku saya kemudian ditarik dari
peredaran dan dilarang terbit–dengan tuduhan bahwa buku-buku saya berisi
cerita-cerita yang bersifat provokatif dan melawan pemerintah. Tidak hanya itu,
rumah saya juga didatangi segerombolan polisi pada suatu malam yang larut. Para
polisi itu dengan segera menangkap saya dan membawa saya ke kantor polisi untuk
kemudian diinterogasi.
“Anda, kiri
atau kanan?” tanya salah seorang polisi yang juga ikut menangkap saya.
“Saya justify,
Pak. Kiri-kanan boleh.” jawab saya. “Saya kan hanya seorang tokoh cerita, jadi
terserah penulis saya saja mau menaruh saya di mana. Kadang saya di kiri,
kadang saya di kanan. Fleksibel.”
“Goblok!” umpat
polisi itu sembari menampar saya.
“Goblok!” saya
balas menampar.
Kami berdua pun
saling goblok-goblokan dan tampar-tamparan.
Setelah
sama-sama babak belur dihantam sepi, polisi itu kembali membuka percakapan di
antara kami. “Kenapa Anda malah ikut-ikutan menampar saya?”
“Lha, saya kan
hanya mengikuti Bapak. Tadi sebelum saya dibawa ke sini, Bapak sendiri yang
mengatakan kepada saya, ‘Ayo ikut saya’. Belum sempat saya bertanya hendak ke
mana dan mau apa, mulut saya sudah keburu ditutupi lakban. Jadi, siapa yang
sebenarnya salah?” Polisi itu tidak menjawab tanggapan saya, tapi ia langsung membawa
saya ke dalam sel tahanan. Di dalam penjara, perut saya terus-menerus diberi
sisa dan siksa.
Saya lupa
berapa tepatnya ditahan di dalam penjara, mungkin sekitar sepuluh tahun. Tapi
yang jelas, setelah keluar dari penjara itu, saya tidak memiliki apa-apa lagi,
hanya luka dan nyeri yang diberikan polisi sebagai kenang-kenangan. Ya, mau
bagaimana lagi? Polisi kan, kerjaannya hanya menangkap saja. Setelah keluar
dari penjara, mana ada polisi yang memberi sembako kepada mantan tahanannya.
Saya
terlunta-lunta di luar penjara, tidak ada lagi peralatan yang bisa saya gunakan
untuk kembali menulis. Buku-buku saya juga tidak kembali lagi ke pasaran, honor
saya juga sama sekali tidak ada. Saya menggelandang di jalanan. Mengemis ke
sana kemari berharap ada orang yang memberi saya uang untuk makan.
Sebenarnya pada
masa-masa sulit itu, saya sempat menerbitkan sebuah buku. Seorang kawan yang
juga dulu pernah sama-sama bergabung ke dalam gerakan berkenan meminjamkan mesin
tiknya untuk saya gunakan menulis. Saya gunakan kesempatan itu untuk menuliskan
pengalaman-pengalaman saya selama ditahan di dalam penjara. Saya tuliskan
kembali apa-apa yang polisi-polisi itu lakukan kepada saya. Saya dipukuli,
dipaksa membajak sawah, dan hanya diberi makanan sisa.
Tentu saja demi
menjaga jarak aman, saya menuliskan pengalaman saya dalam bentuk fiksi, agar
tidak terlalu dianggap nyata. Saya menulis sebuah cerita tentang seorang
penulis yang karya-karyanya ditarik dari peredaran dan kemudian ditahan oleh
aparat karena bergabung ke dalam sebuah gerakan.
Beruntung ada
penerbit yang mau menerbitkan pengalaman saya. Tapi tak berapa lama, buku
terbaru saya itu ditarik dari pasaran dengan tuduhan buku itu berisi
ajakan-ajakan yang subversif terhadap pemerintah, dan rakyat bisa terprovokasi
untuk melawan aparat.
Saya kembali
ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Kali ini hukumannya lebih
menyakitkan daripada sebelumnya. Saya gagal, saya gagal menjadi penulis. Nama
saya sudah di-black list dan dilarang untuk kembali menulis, walaupun
itu hanya sebatas tulisan-tulisan
ringan. Semenjak kejadian itu, nama saya dihilangkan dari ingatan. Orang-orang
sudah tidak mengingat lagi siapa saya, dan saya sendiri pun dibuat lupa dengan
nama saya sendiri. Sekarang saya seperti orang mati yang masih hidup. Saya
sudah tidak memiliki identitas lagi, dan semenjak itu saya merasa seperti menjadi
orang yang baru.
Saya kembali
menggelandang di jalanan, sudah tidak ada lagi uang yang saya pegang. Kerjaan
saya hanya mengemis-ngemis di jalanan berharap ada orang yang mau memberi saya
uang untuk makan. Tiap malam saya tidur beralaskan kardus-kardus bekas, saya
sudah tidak lagi memiliki kasur yang bisa menemani mimpi saya.
Pernah suatu
waktu saya berpapasan dengan seseorang yang mirip sekali dengan penulis saya.
Dia seorang penulis yang sangat terkenal, buku-bukunya telah saya baca semua.
Karya-karyanya berhasil menginspirasi saya untuk menjadi seorang penulis.
Saya berpapasan
dengannya di sebuah trotoar. Saat itu dia sedang terburu-buru, entah
terburu-buru karena apa. Tapi yang jelas, saya sangat membutuhkan bantuannya.
Barangkali dia berkenan memberi saya uang dari sedikit rezekinya. Masa iya,
seorang penulis ternama tidak mau membantu seorang pengemis yang kelaparan seperti
saya?
Saya hampiri
penulis itu dan langsung menodongkan tangan saya ke hadapannya. Ia sama sekali
tidak menghiraukan saya, ia terus saja berjalan, dan saya terus saja
mengikutinya. Tapi yang kemudian saya dapatkan bukan uang maupun makanan,
melainkan sebuah pukulan ke kepala saya. Saya terjatuh dan merintih kesakitan.
Tak lama setelah itu, penglihatan saya menjadi buram dan lamat-lamat berubah
menjadi hitam.
Saya
tersadarkan diri di dalam sebuah ruangan yang saya tahu itu namanya klinik.
Saya ditolong seorang pengusaha yang dia tidak mau menyebutkan namanya. Dia
memberi tahu saya bahwa dia melihat saya pingsan di pinggir jalan. Kemudian ia
menolong saya dan membawa saya ke klinik terdekat. Menurut keterangan dokter,
kepala saya tidak ada gejala apa-apa, melainkan hanya memar di bagian dahi.
Dokter juga menjelaskan kepada saya bahwa gejala pingsan yang saya alami
terjadi akibat kepala saya yang pusing, entah mungkin kerena pukulan itu atau
karena saya yang belum makan.
Beruntung
pengusaha itu memberikan saya makanan. Akhirnya saya bisa merasakan nikmatnya
makan walaupun harus pingsan terlebih dahulu. Pengusaha itu baik sekali, selain
memberi saya makan, ia juga menawarkan saya sebuah pekerjaan.
“Bagaimana
makanannya, enak?” tanya Sang Pengusaha itu melihat saya makan dengan lahap,
“Makan yang banyak, biar cepat sehat. Kalau sudah sehat, saya ingin mengajak
Anda untuk bekerja bersama saya. Bagaimana? Apakah Anda bersedia?”
“Terima kasih sebelumnya
sudah repot-repot menolong saya.” jawab saya yang masih asyik menikmati
sebungkus nasi padang, “Bagi saya semua makanan kalau dimakan ketika lapar
rasanya menjadi sangat enak sekali, hehe.
“Oh, iya, kalau
soal tawaran bekerja itu, saya sangat bersedia sekali. Kebetulan saya sudah
tidak lagi mempunyai penghasilan.” kata saya gembira.
“Anda berlebihan
sekali memuji saya, menolong itu kan sebuah kewajiban bagi setiap manusia. Nah,
karena saya masih seorang manusia, sudah barang tentu menjadi kewajiban bagi
saya. Saya justru yang senang sekali bisa bertemu orang seperti Anda yang
sangat semangat untuk bekerja. Nanti kalau Anda sudah sehat kembali, saya akan
segera mengajak Anda untuk mengurusi penjualan buku-buku bajakan yang saya
kelola. Bagaimana, Anda bersedia, bukan?”
***
Homunculus. Pernahkah kalian merasa di dalam diri kalian ada semacam penggerak
yang mendorong kalian untuk melakukan suatu hal yang tanpa kalian sadari itu
berlawanan dengan pikiran dan hati kalian? Entah mengapa setiap aku menulis,
apa yang dilakukan tanganku malah menghasilkan sesuatu yang sangat berlawanan
dengan apa yang ada di dalam pikiranku. Cerita yang seharusnya begini, malah
menjadi begitu. Kalian paham maksudku, kan?
Aku sering kali
mengalami hal yang sama setiap menulis. Aku merasa bahwa tokoh ceritaku adalah
seorang yang berada di luar diriku, tak bisa kukendalikan. Entah, apakah ini
karena aku yang terlalu takut terhadap negara atau tokohku yang dengan sengaja
memberontak kepadaku?
Coba, kalian
lihat saja tokoh ceritaku itu, dia tidak melakukan perannya sesuai dengan
skenarioku. Bukankah premis awalnya tokohku akan berhasil melawan pemerintah
dan sukses menjadi penulis ternama? Tetapi mengapa akhirnya ia malah menjadi
seorang pembajak buku? Lalu di mana letak kritikannya jika ceritanya seperti
itu? Dan apa bedanya dengan buku-buku yang ada di pasaran sana yang isinya
menjilat-jilat pemerintah?
Berani sekali
tokohku itu. Rupanya dia ingin menjadi musuh penulisnya sendiri. Aku tak tahu
siapa yang antagonis di sini, tetapi apa yang sudah dilakukan tokohku itu
adalah sebuah pemberontakan.
Sekarang aku
merasa ada sesuatu yang asing yang berada di dalam diriku dan mendorongku untuk
membunuh tokoh ceritaku sendiri. Aku tidak tahu apa alasannya. Aku menyebutnya homunculus,
sesuatu yang kecil yang berada di dalam diriku tapi tidak benar-benar aku, dan
sesuatu yang asing itu dapat mengendalikan diriku.
Baiklah, aku
akan membunuh tokohku sendiri. Entah bagaimana caranya aku akan membunuh tokoh
ceritaku sendiri. Membunuh Sang Pemberontak itu.
Menulis semakin
membuatku pusing. Mungkin dengan menghentikan tulisanku sejenak dan jalan-jalan
keluar rumah akan membuatku lebih tenang. Aku masih memiliki banyak waktu, tak
perlu terburu-buru. Mungkin sesuatu yang asing di dalam diriku akan menuntunku
agar aku dapat membunuh tokoh ceritaku dengan lebih tenang.
***
Goblok sekali
penulis saya itu. Dia yang membuat cerita, tapi dia juga yang ingin membunuh
saya. Gobloknya dua kali, karena dia juga tidak memberi saya nama. Saya
dibiarkannya bercerita dengan sudut pandang orang pertama. Saya dikenal di dalam
cerita sebagai orang tanpa nama. Padahal kan, saya seorang penulis yang
seharusnya mencantumkan nama pada karyanya sendiri. Aneh.
Saya bingung, sebenarnya
saya itu siapa? Apakah saya adalah saya, atau saya adalah aku? Lalu siapa yang akan
dibunuh oleh penulis saya itu? Apakah saya, ataukah aku? Sungguh, saya bingung
dan tidak tahu.
Terlepas dari
itu semua, sekarang usaha saya semakin berkembang. Saya berhasil membuka toko
buku bajakan saya sendiri. Semua itu berkat bantuan Sang Pengusaha yang baik
hati sekali itu. Saya tidak tahu jika saya tidak bertemu dengan pengusaha itu,
mungkin saya tidak akan menjadi pengusaha sukses seperti sekarang ini.
Sudahlah,
syukuri saja. Sekarang saya sudah berhasil memiliki rumah sendiri, tepatnya
bekas rumah saya yang dulu disita para polisi. Tapi tak apa, toh uang saya juga
sudah banyak. Jadi, membeli rumah hanya seperti membeli jajanan bagi saya.
Penghasilan yang saya miliki sekarang ini, berbeda sekali dengan penghasilan
saya ketika dulu masih menjadi seorang penulis. Memang sih, saya dulu penulis
ternama yang karyanya banyak dibaca, tapi tetap saja honornya tidak terlalu
seberapa dengan penghasilan saya sekarang ini.
Oh iya, kalau membicarakan
soal penulis saya itu, saya pernah bertemu dengannya beberapa hari yang lalu
ketika Satpol PP sedang mengadakan razia. Saya bertemu dengannya setelah saya kabur
dari kejaran Satpol PP. Kami berpapasan di sebuah gang kecil yang terpencil di
sebuah kompleks perumahan.
Ia memandang
saya dengan heran, sambil berkata, “Sepertinya kita pernah bertemu dan saling
mengenal?” tanyanya membuka percakapan.
“Memang, saya
tokoh cerita yang Anda tulis.” jawab saya sekenanya.
“Oh ... oh ya ...
aku baru ingat ...,” kata penulis saya yang bicaranya seketika menjadi gugup.
“hendak apa kau ke mari?”
“Saya hendak
kabur dan sembunyi dari cerita.”
“Kok sama, aku
juga hendak kabur dan sembunyi dari negara.”
“Hahaha, kita
memang gila, ya?”
Setelah
percakapan kami membisu beberapa lama, kami mulai bisa mengerti satu sama lain.
Percakapan kami selanjutnya pun lancar dan mengalir. Sesekali saya mendapati
tingkahnya yang begitu aneh, atau memang semua penulis itu memiliki tingkah
yang aneh? Entahlah. Tapi yang jelas, saya melihat penulis saya itu seperti
ingin membunuh saya. Setiap ingin membunuh saya, penulis itu selalu bertingkah
aneh, seperti orang yang ketakutan. Kalau sudah begitu, pandangan matanya
seperti orang yang mencari sesuatu dan setelah itu badannya menggigil
ketakukan.
Walaupun sesekali
tingkahnya aneh dan mengundang kecurigaan, tapi obrolan kami terus saja
berjalan sampai kemudian saya pamit undur diri dan pulang. “Titip salam, ya,
buat rumahmu. Semoga lain kali kita bisa bertemu.” ujarnya.
***
Rasa takut.
Pernahkah kalian merasa takut dan terancam? Ah, mana ada orang yang tidak
memiliki rasa takut?
Suara itu.
Suara yang mengancamku akhir-akhir ini, tepatnya setelah aku berniat membunuh
tokoh ceritaku sendiri. Mungkin bagi sebagian penulis, mudah saja untuk
mematikan tokohnya sendiri. Tapi aku? Mengapa aku sulit sekali untuk mengakhiri
cerita yang kutulis sendiri?
Mungkin jika
hanya sebuah suara biasa, aku tidak akan takut. Tapi kalimat dari suara itu
sangat bernada ancaman. Ditambah lagi suara itu tidak jelas dari mana datangnya
dan siapa yang menyuarakannya. Suara itu terus berulang-ulang dan membuat
kepalaku stres. Stresku semakin parah ketika aku semakin dekat dengan kematian
tokohku.
“Angkat tangan!
Serahkan segala pena dan tinta! Atau kau memilih untuk kami bunuh!”
Suara itu
sangat terdengar jelas dan dekat. Tapi mengapa tak juga kutemukan orang yang
mengancamku itu? Gila. Aku bisa gila. Kucoba keluar rumah, tapi suara itu tak
juga menghilang. Bahkan, ketika aku sempat berpapasan dengan tokohku di depan
rumah, suara itu masih terus terdengar di telingaku dan semakin tegas ketika
aku sesekali mencoba untuk membunuh tokoh ceritaku. Lagi-lagi suara itu kembali
terdengar.
“Angkat tangan!
Serahkan segala pena dan tinta! Atau kau memilih untuk kami bunuh!”
Tidak, ini
tidak akan kubiarkan. Aku harus nekat dengan apa pun yang akan terjadi nantinya.
Aku harus menyelesaikan ceritaku. Cerita ini tidak boleh digantung begitu saja.
Tidak ada cara
lain selain membunuh tokohku. Aku harus membunuhnya walau nyawaku sebagai
taruhannya. Dan benar saja, tepat ketika aku telah memvonis mati tokohku, ada
sesuatu yang menancap dalam punggungku; seperti sebuah peluru yang berhasil
menghentikanku, menghentikan semuanya.
***
Saya tidak
pernah berpikir bahwa saya ini nyata, hidup, dan memiliki hasrat. Sebetulnya
bagi saya, harta yang melimpah ruah ini tidak berarti bagi saya. Tapi tak saya
kira, ternyata dengan harta ini saya bisa mendapatkan kebahagiaan.
Menjadi penjual
buku bajakan memang tidak terlalu seberapa keuntungannya, apalagi jika suatu
waktu terkena razia dan saya ditangkap kembali oleh polisi. Dan kekhawatiran
saya terbukti, saya kembali berhadapan dengan segerombolan polisi di sebuah
razia. Tepatnya pada sebuah malam larut, tujuh hari lalu. Saya tertangkap basah
oleh para polisi patroli di sebuah rumah bordil. Saya disidang dan divonis mati
oleh pengadilan setempat. Namun sayangnya negara tidak mengenali saya sebagai
penjual buku bajakan, tetapi saya dikenali negara sebagai seorang bandar
narkoba dan seorang pembunuh.
Saya tidak tahu
mengapa saya disebut sebagai pembunuh. Tapi jika saya disebut sebagai bandar
narkoba, saya memang benar-benar seorang penjual sekaligus bandar narkoba.
Menjual buku bajakan memang sebuah pekerjaan yang menjanjikan, tetapi saya
membutuhkan sebuah pekerjaan baru yang bisa menghidupi saya ketika
sewaktu-waktu toko buku bajakan saya dipaksa tutup. Dan karena itulah, saya
memilih untuk menjadi seorang bandar narkoba, lebih tepatnya bandar sabu. Sebuah
pekerjaan yang sangat menguntungkan, sehingga saya dapat membeli bekas rumah
saya sendiri.
Tetapi untuk soal
membunuh, saya berani bersumpah, seumur-umur saya sama sekali tidak pernah
membunuh seseorang. Dan dengan alasan apa pengadilan menuduh saya sebagai
pembunuh? Apakah karena selama ini saya seorang yang misterius dan tidak
memiliki identitas?
Pengadilan
menyebut bahwa saya adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian seorang
penulis terkenal. Saya benar-benar tidak tahu. Tetapi menurut bukti yang
tertera di kamera CCTV milik kediaman korban, tamu terakhir yang mengunjungi
rumahnya adalah saya. Saya orang terakhir yang menemui korban sebelum tewas
tertembak sore itu.
Saya menyangkal
semua yang dituduhkan hakim kepada saya. Tetapi beragam bukti terus saja
dilontarkan. Menurut keterangan saksi, yang juga salah seorang tetangga korban,
penulis itu bertingkah laku aneh saat sedang mengobrol bersama saya. Dan saya
dianggap telah meracuni penulis saya itu. Saya kembali menyangkal, tetapi
berbagai tuduhan terus saja menyerang saya. Saya hanya bisa pasrah, saya hanya
bisa diam mendengarkan, saya sudah dibungkam.
Tuduhan selanjutnya
lagi yang saya dengar adalah bahwa saya memang pantas dianggap sebagai
pembunuh. Mengingat rekam jejak saya yang pernah bergabung dalam sebuah gerakan
kiri, saya memang orang yang pantas jika disebut sebagai pembunuh.
Kepala saya
semakin pusing. Hidup rasanya tidak adil pada saya. Perlahan saya memejamkan
mata ketika sayup-sayup terdengar suara ketukan palu hakim menjatuhkan vonis
bahwa saya benar-benar pelakunya.
Saya terbangun
di sebuah ruang perawatan tahanan. Kepala saya masih terasa sedikit pusing.
Saya tidak tahu berapa lama saya pingsan. Saya kembali mengingat tuduhan hakim
kepada saya, saya dituduh sebagai pembunuh.
Memang beberapa
kali keinginan untuk membunuh penulis saya muncul dalam kepala saya. Saya
selalu menganggap bahwa ketidakadilan dalam hidup saya, disebabkan karena
penulis saya. Hidup saya menderita. Dan terkadang saya menganggap bahwa penulis
saya adalah pemerintah yang berlaku tidak adil pada saya. Hidup saya telah
direkayasa oleh negara, hidup saya benar-benar telah direkayasa oleh penulis
saya sendiri.
Tetapi meskipun
saya menganggap penulis saya sebagai musuh saya, saya benar-benar tidak pernah membunuh
penulis saya sendiri. Karena saya tahu, jika saya membunuh penulis saya
sendiri, itu sama saja saya membunuh diri saya sendiri. Dan kalau benar penulis
saya sudah mati, mengapa saya masih hidup sampai saat ini?
Saya yakin
pasti ada suatu sesosok orang asing yang menghubungkan antara saya dan
penulis saya. Atau apa selama ini sayalah yang menjadi orang asing itu?
Saya sebenarnya tidak pernah ada, penulis saya pun tidak pernah ada. Semua ini
hanyalah sesosok orang asing yang saya tidak tahu siapa, tapi saya dapat
merasakan sendiri.
Sesosok asing
yang sewaktu-waktu dapat membunuh saya dan juga dapat menghidupkan penulis
saya. Dan saya benar-benar tahu isi kepala orang asing itu. Saya
benar-benar mengenalnya, dan juga saya benar-benar tidak mengenalnya. Dan
sekarang saya benar-benar ingin membunuh diri saya sendiri.
Saya ingin
membunuh diri saya sendiri dan saya benar-benar tidak membunuh diri saya
sendiri. Semua tergantung pada orang asing itu. Kepala saya semakin
pusing, perut saya terasa mual, dan saya benar-benar ingin membunuh diri saya
sendiri.
Saya menaruh
prasangka bahwa orang asing itu adalah kalian. Ya, kalian, pembaca
cerita ini. Mungkin terdengar sampah melibatkan pembaca di dalam sebuah cerita.
Tetapi saya yakin kalianlah tokoh antagonis dalam cerita ini. Meskipun saya
tidak benar-benar tahu bagaimana dunia di dalam cerita ini berjalan, tapi saya
selalu tahu, antara penulis dan tokoh cerita selalu dihubungkan oleh pembaca.
Dan semua pembunuhan yang terjadi dalam cerita ini telah direncanakan oleh kalian
saat pertama kali membaca cerita ini. Kalian adalah saya, kalian adalah penulis
saya. Dan saya benar-benar tidak ada, penulis saya benar-benar tidak ada. Dan
kepala saya semakin pusing, saya semakin ingin membunuh diri saya sendiri.
Saya ingin
membunuh diri saya sendiri. Saya tidak ingin mati karena dihukum gantung, saya
ingin mati dengan cara terhormat. Saya ingin membunuh diri saya sendiri.
Saya ingin membunuh diri saya sendiri. Saya ingin ... membunuh ... diri saya ... sendiri. Saya ... ingin ... membunuh ... diri ... saya ... sendiri.
Oktober, 2021
Komentar
Posting Komentar