Langsung ke konten utama

Absurdisme Albert Camus #4

Seperti pada artikel sebelumnya, Albert Camus merupakan seorang filsuf yang termasuk ke dalam eksistensialisme ateis, di mana kebebasan sepenuhnya berada di tangan manusia, bukan Tuhan ataupun entitas yang lain.


Albert Camus sangat terkenal dengan pemikirannya mengenai absurdisme, di mana menganggap kehidupan ini tidak bisa dimaknai secara pasti. Manusia tidak akan pernah sampai pada kesimpulan objektif mengenai kehidupan dunia. Usaha yang selama ini dilakukan oleh manusia untuk mencari kepastian dalam hidup adalah sia-sia dan berakhir dengan kegagalan. Satu-satunya yang pasti dalam hidup adalah kematian. Karena itu, menurut Camus selama ini manusia menjalani kehidupan yang absurd, yang tak bisa termaknai secara pasti karena kehidupan selalu berubah setiap waktunya. 


Mitos Sisifus

Untuk menggambarkan absurditas hidup ini, Camus menggunakan mitos Sisifus sebagai contohnya. Dalam mitos tersebut, Sisifus merupakan seorang raja yang diberi hukuman oleh Dewa Zeus untuk mendorong batu ke atas gunung, setelah batu itu sampai di puncak gunung, batu itu kemudian menggelinding ke bawah, Sisifus pun mesti mendorongnya lagi sampai ke atas puncak. Hukuman mendorong batu terus dilakukan oleh Sisifus secara berulang kali tanpa ada batas waktu.


Mitos Sisifus ini menggambarkan sebuah kesia-siaan, di mana aktivitas mendorong batu digambarkan sebagai pekerjaan manusia, dan puncak digambarkan sebagai tujuan hidup manusia. Selama ini manusia melakukan pekerjaannya setiap hari hanya untuk mengejar suatu tujuan, yang mana, ketika manusia telah sampai pada tujuannya, mereka telah sampai pada kesadaran bahwa itu bukanlah suatu hal yang pasti dalam hidup. Manusia selalu berharap pada tujuan-tujuan yang baru dalam hidupnya. Dengan keinginan manusia yang tak terbatas itu, manusia melakukan pekerjaannya secara terus-menerus hanya demi tujuan yang semu. Dan itu dianggap Camus sebagai kesia-siaan.


Novel Orang Asing

Camus juga menggambarkan pemikiran absurdismenya melalui novel, yang berjudul L’Étranger (Orang Asing). Novel ini menceritakan tentang Mersault yang terasing dari lingkungan sekitarnya. Dia bukan hanya terasing dari tempat tinggalnya, tetapi juga terasing terhadap kebudayaan, kebiasaan masyarakatnya, dan asing terhadap dirinya sendiri (Camus, Orang Asing 2013). Mersault digambarkan sebagai orang yang tidak peduli dan mudah menerima sesuatu. Hal ini tergambar dalam paragraf pembuka novel ini:

 

“Hari ini Ibu meninggal. Atau, mungkin kemarin, aku tidak tahu. Aku menerima telegram dari panti wreda: ‘Ibu meninggal. Dimakamkan besok. Ikut berduka cita.’ Kata-kata itu tidak jelas. Mungkin Ibu meninggal kemarin.” (Camus, Orang Asing 2013).

 

Novel L’Étranger (Orang Asing) berhasil mengilustrasikan pandangan Camus mengenai absurdisme. Mersault merupakan orang yang sadar akan kebsurdan hidup ini, karena itu ia dianggap asing oleh lingkungannya. Tindakan yang dilakukan oleh Mersault ini merupakan sebuah kebebasan. Kebebasan bagi Camus adalah kesadaran manusia pada kehidupan yang absurd dan memberontak dengan memaknai kehidupan berdasarkan keyakinannya sendiri. 


Daftar Pustaka: 

Camus, Albert. Orang Asing. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2013.

Komentar