Langsung ke konten utama

Berkenalan dengan Filsafat Eksistensialisme #3

Eksistensialisme berasal dari kata eksistensi, atau yang dalam bahasa Yunani disebut existere. Kata existere berasal dari kata ex yang berarti keluar dan sitter yang berarti membuat berdiri. Jadi, kata eksistensi secara bahasa berarti berdiri sendiri atau keluar dari diri sendiri. Sedangkan kata isme berarti paham atau aliran. 

Menurut pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya terpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah (Kemendikbud RI 2008). Eksistensialisme adalah paham atau aliran yang menjadikan manusia sebagai subjek sekaligus juga objek bagi dirinya sendiri. Dalam pengertian lain, eksistensialisme sangat menekankan keautentikan manusia (menjadi dirinya sendiri).


Sejarah Filsafat Eksistensialisme

Esksistensialisme pertama kali ditemukan oleh filsuf Denmark abad 19, Soren Abeye Kierkegaard. Pemikiran Kierkegaard sangat menekankan pada autentisitas manusia di hadapan agama. Pemikiran filsafatnya sangat berkaitan dengan iman dan teologi, ia juga menyusun sendiri etika-etika Kritstiani sebagai respon atas hilangya autentisitas manusia disebabkan agama hanya menjadi persoalan objektif dan lahiriah saja. Dari Kierkegaard inilah kemudian lahir filsuf-filsuf eksistensialis seperti Heidegger, Nietzsche, Karl Jaspers, Jean Paul Sartre, dan Gabriel Marcel.

Kritik terhadap Materialisme

Munculnya eksistensialisme juga sebagai reaksi atas pemikiran-pemikiran sebelumnya, seperti materialisme dan idealisme. Materialisme merupakan paham yang mengatakan bahwa yang nyata hanyalah materi. Manusia dalam materialisme hanya dipandang dari wujud fisiologis dan biologisnya saja, sehingga manusia hanya dianggap sebagai sebuah materi belaka, yang dalam sejarahnya berevolusi menjadi “benda yang berpikir”. 

Karena manusia hanya dipandang sebagai objek di dalam materialisme, untuk menyatakan eksistensinya sendiri manusia mau tidak mau mesti memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papannya. Dalam hal ini, eksistensialisme muncul sebagai sebuah kritik atas materialisme Karl Marx.

Kritik terhadap Idealisme

Idealisme yang pada masa itu menjadi dasar pemikiran Barat juga tidak terlepas dari kritik yang dilakukan oleh eksistensialisme. Idealisme adalah sebuah aliran filsafat yang berpandangan bahwa yang nyata hanyalah idea dan bukan materi (Hardiman 2019). Idealisme merupakan paham yang lahir setelah era pencerahan Jerman, yang ditandai oleh kritisisme Immanuel Kant. Tokoh-tokoh idealisme yang terkenal adalah Fichte, Schelling, dan Hegel. Namun, idealisme yang saat itu sangat berpengaruh pada pemikiran di Eropa adalah idealisme Hegel. 

Hegel memandang kenyataan sesungguhnya adalah idea abstrak atau Roh, di mana kesadaran manusia hanyalah sebuah momen dalam dialektika Roh. Dalam pandangan idealisme, proses kesadaran (refleksi) tidak dilakukan oleh manusia itu sendiri, melainkan dilakukan oleh Roh yang menyadari dirinya dalam diri manusia. Dalam hal ini, eksistensi manusia hanyalah alat bagi eksistensi Roh. 

Hasil dari proses refleksi tersebut kemudian menjadi idea. Semakin objektif suatu idea yang dihasilkan, maka akan semakin benar dan semakin riillah idea itu. Idea-idea yang objektif ini kemudian dikolektifkan menjadi suatu idea universal, yang disebut Hegel sebagai Roh Absolut. Proses dialektika inilah yang disebut sebagai abstraksionisme.

Abstraksionisme menganggap idea atau kebenaran merupakan hal yang bersifat universal. Kebenaran universal adalah kebenaran “kita”, “ras”, “zaman kita”, “abad kita”, “roh dunia”, bukan “aku” atau “pikiranku”. Kierkegaard keberatan dengan sistem abstrak tersebut, menurutnya Hegel telah mereduksi manusia menjadi “kawanan” (crowd) yang anonim (Hardiman 2019), yang telah kehilangan autentisitasnya.

Eksistensialisme sebagai Penengah

Eksistensialisme mengkritik materialisme dan idealisme karena kedua pemikiran itu sama-sama menghilangkan eksistensi manusia sebagai makhluk yang autentik. Materialisme menganggap manusia hanya sebagai materi (objek) saja, sedangkan idealisme menilai manusia dari subjektifitasnya saja, di mana keobjektifan manusia menjadi hilang. Eksistensialisme menginginkan manusia dari kedua aspek tersebut, yakni manusia sebagai subjek sekaligus juga objek bagi dirinya sendiri.


Pembagian Filsafat Eksistensialisme

Eksistensialisme terbagi menjadi dua macam, yaitu eksistensialisme teis dan eksistensialisme ateis. Eksistensialisme teis adalah eksistensi manusia hanya bisa terwujud ketika manusia melakukan penghayatan subjektif kepada Tuhannya. Eksistensialisme teis menganggap kedekatan dengan Tuhan adalah penghayatan eksistensial. Tuhan sebagai kebenaran yang dihayati adalah subjektif (Hassan 2005). Soren Kierkegaard, Karl Jaspers, dan Gabriel Marcel merupakan para filsuf yang termasuk ke dalam eksistensialisme teis. 

Sedangkan eksistensialisme ateis adalah eksistensialisme yang menghilangkan peran Tuhan dan meyakini eksistensi manusia sepenuhnya ditentukan oleh manusia sendiri (indeterministik). Para filsuf eksistensialisme ateis adalah Frederick Nietzsche, Jean-Paul Sartre, dan Albert Camus. 

 

Daftar Pustaka:

Hardiman, F. Budi. Pemikiran Modern: Dari Machiaveli sampai Nietzsche. Sleman: PT Kanisius, 2019.

Hassan, Fuad. Berkenalan dengan Eksistensialisme. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 2005.

Kemendikbud RI. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: PT Gramedia, 2008.

Komentar