Pemikiran filsafat sudah berkembang sejak abad keenam sebelum masehi. Kemunculan filsafat pertama kali berasal dari Yunani Kuno ketika orang-orang sudah memikirkan asal-usul alam semesta secara logis. Kelahiran filsafat juga tidak terlepas dari latar belakangnya yang ingin berlepas dari jawaban-jawaban takhayul atas permasalahan-permasalahan duniawi. Pelopor pemikiran filsafat, yang memiliki corak kritis-ilmiah, pertama kali dimulai oleh Thales (Hatta 1986).
Thales adalah pelopor pemikiran filsafat yang bercorak kosmosentris, yaitu berfokus pada persoalan alam semesta sebagai unsur utama (arche). Pemikiran kosmosentrisme kemudian diteruskan oleh murid-murid Thales, yaitu Anaximander dan Anaximenes, dan terus berlanjut sampai Democritus yang mengatakan bahwa unsur alam semesta adalah atom (Hatta 1986).
Pemikiran kosmosentrisme kemudian ditinggalkan oleh para filsuf Yunani setelah Democritus karena tidak mampu menjawab persoalan mendasar dari permasalahan manusia. Objek kajian filsafat kemudian beralih dari kosmosentrisme menjadi antroposentrisme, yang di mana manusia sebagai titik pusat. Pemikiran antroposentrisme ditandai oleh kemunculan humanisme era Yunani Kuno. Humanisme Yunani Kuno muncul sebagai reaksi atas pemikiran para filsuf terdahulu yang menempatkan manusia sebagai mikrokosmos (bagian terkecil dari alam semesta) dan bukan makrokosmos yang menempatkan manusia sebagai subjek sekaligus objek permasalahan alam semesta (Hadi 2012).
Antroposentrisme muncul pertama kali di Athena ketika para kaum Sofis memandang secara skeptis tentang kemungkinan landasan etika pada alam dan cenderung melihat landasan etika berakar pada kebiasaan (nomos) (Evans 2018). Mereka kemudian membuat sistem pendidikan yang lebih bersifat humanistik dan mengedepankan metode retorika dalam pengajarannya bertujuan untuk membentuk manusia yang mahir dalam politik-demokrasi (Hadi 2012). Landasan etika mereka juga bersifat relativistik, artinya tidak ada kebenaran mutlak yang perlu dianut oleh masyarakat. Para kaum Sofis, yang sebagian besar adalah orang-orang dari luar Athena, memanfaatkan kepintaran mereka untuk mendapatkan keuntungan, sehingga kebenaran di mata mereka adalah kebenaran bagi siapa saja yang mampu membayar mereka. Sifat oportunistik yang melekat pada kaum Sofis inilah yang kemudian ditentang oleh Socrates dan murid-murid Akademia karena telah menodai filsafat di mata masyarakat.
Kelompok Akademia (Socrates, Plato, dan Aristoteles) meyakini perlu adanya integrasi antara intelektualitas dan spiritualitas (rasio dan hati nurani) untuk mencapai kebijaksanaan (Hadi 2012). Socrates menekankan bahwa kebahagiaan sejati (paideia) adalah kebijaksanaan dan akal budi, sehingga kehidupan manusia adalah pencarian terhadap kebenaran sejati dengan terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan bertindak skeptis terhadap segala hal. Socrates bahkan pernah mengatakan bahwa satu-satunya hal yang ia tahu adalah bahwa ia tidak tahu. Skeptisisme ini kemudian mejadi ciri khas dari filsafat dan ilmu pengetahuan untuk terus menguji setiap kebenaran yang telah mapan. Plato dan Aristoteles kemudian melanjutkan pemikiran-pemikiran Socrates dengan berfokus pada perkembangan ilmu pengetahuan. Plato berfokus pada pendidikan para pemuda Athena dengan mendirikan Akademia dan Aristoteles membuat klasifikasi-klasifikasi dasar ilmu pengetahuan yang bermanfaat terhadap perkembangan sains ke depannya.
Setelah kematian Aristoteles, filsafat Yunani mengalami kematian dan kemudian muncul kembali pada zaman Romawi dengan ditandai lahirnya pemikiran filsafat helenisme. Filsafat helenisme merupakan filsafat yang berkembang pada zaman peralihan dari Yunani Kuno ke abad pertengahan sebelum masuknya agama Kristen. Istilah helenisme berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu hellenizein yang berarti berbicara atau berkelakuan seperti orang Yunani (Nirwansyah 2020). Filsafat helenisme mengubah corak filsafat yang sebelumnya bersifat teoritis menjadi bersifat praktis dan membuat filsafat menjadi bagian dari seni hidup (Nasution 2017).
Ada banyak aliran yang lahir pada masa helenisme, salah satunya adalah aliran neoplatonisme. Aliran neoplatonisme adalah aliran filsafat yang menggabungkan ajaran Plato dengan elemen-elemen dari kebudayaan Helenistik, agama-agama Timur, dan mistisisme. Neoplatonisme adalah aliran yang dibawa oleh Plutinos dan meneruskan pemikiran-pemikiran Plato (Platon). Neoplatonisme mengajarkan bahwa ada satu prinsip yang transenden dan mendasar yang menjadi asal-usul segala sesuatu, yang sering disesbut sebagai Satu yang Transenden atau Yang Tertinggi. Tuhan dalam Neoplatonisme adalah prinsip yang tak terbatas, tak tergambarkan, dan tak terpecahkan yang melampaui pemahaman manusia (Nolasko 2023). Neoplatonisme membawa kembali pemikiran filsafat kepada teosentrisme, yaitu pusat utama dari alam semesta adalah Tuhan. Berbeda dengan teosentrisme Yunani Kuno, teosentrisme Neoplatonisme berakar dari agama-agama Timur yang telah bercampur dengan budaya-budaya Yunani. Salah satu hasil dari pemikiran meoplatonisme adalah teori imanensi yang kemudian dilanjutkan oleh para filsuf Muslim di dalam menyusun dasar ontologi filsafat Islam.
Para filsuf Muslim awal, yaitu Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina, memperkenalkan pemikiran filsafat Plato yang berkembang pada masa Neoplatonisme. Para filsuf Muslim mengembangkan pemikiran Plato dan menyesuaikannya dengan Teologi Islam. Selain itu, mereka juga meneruskan logika Aristoteles ke dalam sistem filsafat mereka. Hasil pemikiran filsafat Islam pada akhirnya membawa kemajuan dengan banyak menghasilkan penemuan-penemuan dari para ilmuwan Muslim sebelum akhirnya mengalami kemunduran karena faktor-faktor politis dan banyak ulama yang meninggalkan filsafat Islam, dan lebih memilih mengembangkan ilmu-ilmu fiqih yang lebih statis. Sehingga umat Islam mengalami kejumudan dan minim inovasi.
Sistem filsafat Islam kemudian diteruskan pada abad pertengahan yang dipelopori oleh St. Agustine untuk membangun sistem pengetahuan Gereja. Abad ini dikenal sebagai Abad Pertengahan, karena teologi berkembang pesat dan satu-satunya kebenaran adalah kebenaran Gereja. Manusia pada abad ini kehilangan otentisitasnya sebagai manusia yang mampu menentukan kebenarannya sendiri. Skolatisisme menjadi sistem logika yang mutlak dipraktekkan dan dipelajari oleh setiap akademis. Sehingga mengakibatkan ilmu pengetahuan tidak lagi berkembang pada abad ini, dan ilmu pengetahuan juga harus sesuai dengan penafsiran Gereja. Hal inilah yang kemudian membangkitkan kembali humanisme Yunani Kuno yang memahami manusia sebagai pusat utama.
Humanisme Renaisans membangkitkan kembali antroposentrisme yang telah hilang karena dominasi Gereja Abad Pertengahan. Semangat humanisme Renaisans adalah semangat untuk mengembalikan manusia pada eksistensinya sendiri, yang berperan sebagai subjek sekaligus juga objek penelitian. Humanisme Renaisans kemudian melahirkan rasionalisme Renaisans yang menandai periode sejarah filsafat sebagai Zaman Modern.
Menurut Bertrand Russel, sebagian besar filsuf zaman modern mengakui otoritas ilmu pengetahuan zaman modern sangat berbeda dari otoritas Gereja, karena ia bersifat intelektual, dan bukan pemerintahan. Sehingga tidak ada hukuman yang dijatuhkan kepada mereka yang menerimanya (Russel 2004). Ilmu pengetahuan pada zaman modern memiliki sifat yang liberalistik, sehingga banyak filsuf yang membentuk sistem filsafat secara bebas tanpa adanya tekanan dari otoritas Gereja. Para filsuf rasionalisme adalah Rene Descartes, Spinoza, dan Leibniz.
Komentar
Posting Komentar