Langsung ke konten utama

Kebebasan Menurut Albert Camus #5

Absurdisme membawa konsekuensi pada pilihan hidup manusia. Menurut Camus, dalam menghadapi absurditas, manusia dihadapkan pada dua pilihan, yaitu bunuh diri atau menerima absurditas. Bunuh diri di sini dibedakan menjadi dua, yang pertama yaitu bunuh diri eksistensi dengan menghilangkan nyawa sendiri. Camus menyebut orang yang melakukan bunuh diri sebagai pengecut, karena baginya lari dari absurditas dengan menghilangkan nyawa sendiri berarti terjebak dalam keabsurdan, dia tidak menggunakan kebebasannya sendiri. Sedangkan bunuh diri yang kedua yaitu bunuh diri secara filosofis, artinya manusia menolak kemampuannya sendiri untuk memaknai kehidupan ini secara rasional dengan taklid kepada kepercayaan-kepercayaan agama dan ajaran filsafat. Meskipun Camus tidak menolak jenis bunuh diri yang kedua, tetapi menurutnya cara ini masih dilakukan secara setengah-setengah dan tidak radikal. Camus kemudian menawarkan cara yang ketiga, yaitu menerima keabsurdan hidup ini dengan memaknainya sesuai dengan kebebasan manusia sendiri. Cara inilah yang disebut Camus sebagai pemberontakan.

Menurut Camus, pemberontakan merupakan respon terhadap kehidupan yang absurd. Manusia yang memberontak adalah manusia yang secara bersama mengatakan “ya” terhadap kehidupan yang absurd, sekaligus juga berkata “tidak” terhadap penderitaan dan ketidakadilan. Manusia pemberontak adalah manusia yang memaknai kehidupannya sendiri tanpa melibatkan unsur adikodrati ataupun negara, ia melakukan pemberontakan terhadap kehidupan sesuai dengan kebebasannya sendiri. Tetapi dalam kenyataannya, kebebasan manusia seringkali dihalangi oleh kekuatan yang lebih besar. Karena itu, pemberontak selain dikatakan sebagai orang yang memberontak terhadap kehidupan yang absurd, juga dapat dikatakan sebagai orang yang selalu memperjuangkan kebebasannya sendiri. Menurut Camus, manusia mesti melakukan pemberontakan terhadap kehidupan yang absurd ini, karena baginya satu-satunya yang bermakna di kehidupan yang tanpa makna ini adalah manusia. Manusia yang memberontak adalah manusia yang bereksistensi. Camus mengubah perkataan yang terkenal dari Rene Descartes: “Aku berpikir, maka aku ada”, menjadi: “Aku memberontak, maka aku ada”.

Namun, meskipun Camus sangat menekankan mengenai kebebasan manusia, kebebasan itu harus dilandasi dengan moral dan integritas. Menurut Camus, seorang absurdis adalah amoral (tidak memiliki landasan moral dalam dirinya), karena itu setiap perbuatannya mestilah dilandasi dengan baik dan buruk yang berlaku pada ruang dan waktu yang ditempatinya. Artinya, meskipun kebebasan manusia menghendaki adanya pemberontakan, pemberontakan itu mestilah didasari oleh aturan yang sedang berlaku di masyarakat sekitarnya. Seorang absurdis tidak memperoleh kebebasannya sendiri dengan menghilangkan kebebasan orang lain.

Konsep kebebasan menurut Camus yang terbatas ini berbeda dengan kebebasan menurut Sartre. Bagi Sartre, kebebasan merupakan suatu hal yang mutlak, manusia dikutuk untuk menjadi bebas. Keberadaan manusia di dunia ini memiliki konsekuensi dan tanggung jawab untuk memperjuangkan kebebasannya sendiri. Namun, seringkali kebebasan manusia dibatasi oleh kebebasan orang lain, karena itu Sartre menyebut neraka adalah orang lain. Sartre menganggap kebebasan mestilah dilakukan dengan sebebas mungkin, tanpa dihalangi oleh aturan moral dan norma. Pemberontakan dalam sudut pandang Albert Camus adalah usaha manusia untuk memaknai kehidupan dengan keyakinannya sendiri, karena Albert Camus percaya bahwa setiap manusia memiliki kebebasan individu masing-masing. Namun, kebebasan dalam pandangan absurdisme adalah kebebasan yang dilakukan secara normatif dan tidak bertentangan dengan hak-hak individu orang lain.

Komentar