“Perjalanan adalah soal menuju ke suatu tempat, mencari sesuatu, menemukan sesuatu, untuk menguasai sesuatu... Sekedar menggerutu tidak akan menyelesaikan masalah.”
The Cleft, Doris Lessing
Tulisan ini berisi tentang cerita-cerita saya selama perjalanan ke Bandung. Tulisan ini tidak menarik untuk dibaca jika hanya menceritakan saya sendiri. Tetapi, seperti halnya cerita perjalanan pada umumnya, sepanjang perjalanan saya ke Bandung saya bertemu dengan orang-orang yang sangat berarti bagi saya. Mereka memberikan banyak pelajaran yang berharga, dengan berbagai macam cerita menarik dan unik mereka. Dan tulisan ini berisi tentang berbagai macam cerita orang yang saya temui dalam perjalanan menuju Bandung ini.
Selasa, 1 Agustus 2023
Pada pagi hari yang belum mandi, saya bersiap-siap merapikan
barang-barang bawaan yang akan diangkut ke Bandung. Tidak terlalu banyak, hanya
membawa pakaian-pakaian yang akan saya taruh di Bandung nanti.
Rencana saya ke Bandung kali ini adalah untuk mengikuti tes
kesehatan dan tes narkoba di kampus sebagai syarat pemberkasan mahasiswa baru.
Selain itu, perjalanan saya ke Bandung kali ini juga saya manfaatkan untuk
memindahkan sebagian pakaian-pakaian saya yang akan saya gunakan selama di
Bandung nanti.
Pagi itu adalah pagi yang tidak tenang bagi saya. Karena
biasanya, waktu pagi adalah waktu saya gogoleran di kasur sambil scroll-scroll
rells Instagram, dilanjut dengan aktivitas tidur pagi yang bisa
membuat iri para pekerja kantoran. Tetapi aduhai sayangnya, ketenangan pagi itu
terusik karena saya harus menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke Bandung
sore harinya.
Saya membongkar lemari pakaian saya, memilah pakaian apa saja
yang akan saya bawa. Jujur, saya bingung memilih pakaian apa yang cocok selama
tinggal di Bandung nanti. Saya adalah orang yang sama sekali tidak pernah
mengindahkan fashion. Koleksi pakaian saya hanya seadanya. Saya tidak
memiliki jaket gelembung atau sepatu hurung yang akan membuat saya
terlihat seperti barudak well. Alhasil, saya hanya membawa beberapa kaus
dan hoodie yang biasa saya pakai.
Singkat cerita, pakaian-pakaian saya sudah siap dimasukkan ke
dalam tas. Tetapi, tiba-tiba Mama masuk ke dalam kamar dan melihat tas saya yang
menggelembung, dan tiba-tiba berkata, “Ya ampun, Ai (Ai adalah panggilan sayang
orang tua saya), itu banyak amat yang dibawa!” sembari menunjuk tas
saya. “Bawa sedikit aja, nggak usah banyak-banyak! Belum nanti
kamu bawa bekel (dibaca bekel, bukan bekel), mau ditaruh di mana kalau
tasnya penuh kayak gini?”
Kemudian Mama membongkar tas saya kembali, dan menyuruh saya
memilih kembali pakaian apa saja yang memang benar-benar akan dipakai. Sami’na
wa atha’na. Saya pun mengerjakan apa yang Mama perintahkan. Meskipun
memakan waktu yang cukup lama, akhirnya selesai juga merapikan barang-barang
bawaan saya. Syukurlah, Mama tidak mengecek lagi. Saya pun kemudian pergi ke
kamar mandi untuk melakukan mandi pagi, meskipun waktu menunjukkan sebentar
lagi masuk waktu zuhur.
Waktu zuhur pun mengetuk pintu keimanan saya, saya bergegas
menuju musala di dekat rumah untuk mendirikan salat berjamaah. Selesai salat,
saya bergegas menuju pulang dan bersiap menjemput adik saya yang sebentar lagi
akan pulang sekolah. Dengan menggunakan motor Vario kesanyangan keluarga, saya
langsung menuju sekolah adik saya yang kini sedang belajar di kelas dua MI.
Terik sinar matahari siang mendorong para murid, termasuk
adik saya, untuk keluar kelas menuju pulang, melepas rindu, bertemu orang tua
masing-masing. Saya jemput adik saya menuju rumah, mempertemukan adik saya dengan
orang tuanya, sedangkan saya langsung menjalankan ritual makan siang. Setelah
makan, saya mengecek kembali barang-barang bawaan saya. Karena tidak ada lagi
yang perlu direvisi, saya menunaikan tidur siang untuk sejenak memejamkan mata
yang telah lelah.
Waktu menunjukkan pukul setengah dua, saya bangun dari tidur
dan bingung mau ngapain. Secara otomatis, badan saya bergerak menuju
dapur, menjerang air, menyeduh kopi, menyeduh segala pikiran yang mengotori
perasaan. Saya mengisi waktu dengan minum kopi dan membaca novel The Cleft karya
Doris Lessing. Ketika sedang asyik membaca, Mama tiba-tiba muncul di depan
kamar saya. “Jam segini kok belum berangkat, Ai?” Mama bertanya kepada saya.
Saya baru sadar, waktu ternyata sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Saya pun
langsung memanaskan motor Supra dan bersiap berangkat. Dengan restu orang tua,
saya berangkat menuju Stasiun Daru untuk menaiki KRL, menuju Stasiun
Pasarsenen.
Sesampainya di Stasiun Daru, saya memarkirkan motor saya di
tempat yang strategis, karena motor saya akan diparkirkan dalam waktu yang
cukup lama. Selesainya memarkirkan motor, saya menuju loket untuk mengecek
saldo KMT saya. O ya, sedikit penjelasan, KMT adalah singkatan dari Kartu Multi
Trip yang digunakan untuk membayar KRL (commuterline) dan parkir di
stasiun. KMT bisa dibeli di loket stasiun.
Setelah memastikan bahwa saldo saya cukup untuk satu kali
perjalanan pulang-pergi, saya langsung masuk ke stasiun dan menunggu kereta di peron
satu. Peron satu di Stasiun Daru adalah jalur menuju Stasiun Tanahabang,
sementara peron dua adalah jalur menuju Stasiun Rangkasbitung. Saya berada di
jalur satu karena saya akan menuju Stasiun Tanahabang. Tidak menunggu waktu
lama, KRL pun datang. Waktu menunjukkan pukul tiga kurang tiga menit, kereta
berangkat menuju Stasiun Tanahabang.
Beruntung KRL di siang hari masih cukup sepi, sehingga saya
bisa duduk sesuka hati. Perjalanan dari Stasiun Daru ke Stasiun Tanahabang
ditempuh dalam waktu satu jam menggunakan KRL. Setelah sampai di Stasiun
Tanahabang, saya langsung pindah jalur di jalur Cikarang untuk menuju Stasiun
Jatinegara. Cukup lama menunggu KRL Cikarang, sekitar sepuluh menit, sebelum
akhirnya datang KRL tujuan akhir Stasiun Bekasi. Saya pun menaiki KRL tersebut.
Meskipun cukup ramai, tetapi saya masih kebagian tempat duduk, Alhamdulillah.
Ketika kereta memasuki Stasiun Manggarai, penumpang KRL
langsung bertambah banyak. Saya yang sebelumnya masih leluasa, kini terjepit
suasana. Syukurlah, dari Stasiun Manggarai ke Stasiun Jatinegara tidak terlalu
lama, sehingga saya bisa keluar dari keramaian.
Dari Stasiun Jatinegara saya pindah ke jalur tujuan akhir
Stasiun Kampungbandan via Pasarsenen. Saya menaiki KRL yang cukup ramai, tetapi
untungnya masih mendapat tempat duduk. Tidak memakan waktu lama, KRL yang saya
naiki akhirnya sampai di Stasiun Pasarsenen. Saya pun melangkah turun menuju
jalur kereta jarak jauh yang ada di lantai utama Stasiun Pasarsenen, saat itu
waktu menunjukkan pukul lima sore.
O ya, sebelumnya saya sudah janjian dengan teman saya yang
bernama Firman. Dia adalah demisioner saya di organisasi yang sempat saya
ikuti. Kini kami sama-sama berkuliah di kampus yang sama, UIN Sunan Gunung
Djati Bandung. Hanya saya jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, sementara Firman
jurusan Pendidikan Matematika. Firman sungguh mantap sekali, bukan?
Firman sudah sampai lebih dahulu di Stasiun Pasarsenen, dia
berangkat dari Stasiun Tangerang dan sempat nyasar katanya, waduh. Tapi
untungnya dia masih bisa sampai di Pasarsenen dengan tepat waktu. Saya pun
langsung menyusul Firman yang sudah menunggu di musala stasiun. Sesampainya di
musala, saya mengambil wudu dan melaksanakan salat asar. Namun ketika saya
melihat sekeliling musala, saya tidak melihat Firman, sampai ketika saya salat
asar dan sudah rakaat terakhir, tiba-tiba pundak saya ditepuk oleh seseorang
yang kemudian saya tahu setelah selesai salat bahwa dia adalah Firman.
Oh Firman, sungguh betapa rindunya aku padamu!
Saya dan Firman terakhir kali bertemu sekitar setahun yang
lalu, dia kemudian melanjutkan program tahfiz selama setahun sebelum kemudian
melanjutkan kuliah di tahun ini. Setelah kami selesai salat, sejenak kami
meluruskan kaki. Memberi kesempatan pada tubuh kami untuk beristirahat.
Hari sudah hampir petang, layar di smartphone memberi
tahu bahwa waktu sudah berada pada pukul 17 lewat seperempat. Kami pun langsung
bergegas mencetak boarding pass. Tetapi setelah men-scan berkali-kali,
tiket kami tidak kunjung keluar. Penumpang lain yang juga ingin mencetak tiket
pun mengalami kendala yang sama. Alhasil, kami hanya menggunakan e-boarding yang
ada di aplikasi KAI Access.
Kereta yang kami naiki adalah kereta api Cikuray. KA Cikuray
merupakan kereta api ekonomi subsidi (PSO) yang melayani perjalanan dari Stasiun
Pasarsenen–Stasiun Garut, ataupun sebaliknya. Kereta ini merupakan
kereta yang cukup murah apabila ingin bepergian menuju Bandung. Tiket kereta
ini bisa dipesan di aplikasi KAI Access dengan harga Rp45.000,00, kereta ini sudah
bisa mengantarmu sampai ke Stasiun Garut. Dan sebaiknya, memesan tiket KA
Cikuray dilakukan dari jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan, apalagi jika
di waktu-waktu liburan. Karena murah, kereta ini diminati oleh banyak orang.
Catatan tambahan untuk KA Cikuray ini waktu keberangkatannya
hanya tersedia pukul 17.40 dari stasiun awal keberangkatan, yaitu Stasiun
Pasarsenen, dengan waktu tempuh sekitar lima jam sampai dengan stasiun akhir,
Stasiun Garut.
Selain KA Cikuray, apabila kamu ingin bepergian ke Bandung dengan
harga yang lebih murah, kamu bisa menaiki kereta lokal. Apabila kamu orang
Tangerang atau Jakarta dan sekitarnya, kamu bisa menaiki commuterline dari
stasiun terdekat dan transit di Stasiun Cikarang. Dari Stasiun Cikarang, kamu
bisa melanjutkan kereta lokal Walahar sampai dengan Stasiun Purwakarta.
Setelah sampai di Stasiun Purwakarta, perjalanan dilanjutkan
dengan menaiki KA lokal lagi, yaitu KA Garut Cibatuan, tujuan akhir Stasiun
Garut. Hanya perlu diingat, KA Garut Cibatuan hanya tersedia pukul 04.25 WIB
dan pukul 15.50 WIB dari Stasiun Purwakarta. Jika kamu memilih waktu
keberangkatan pukul 15.50 dari Stasiun Purwakarta, maka kamu harus menaiki KA
Walahar dari Stasiun Cikarang pada pukul 11.20 WIB atau pukul 13.40 WIB agar
tidak tertinggal kereta di Stasiun Purwakarta. Baik KA Cikuray atau KA lokal,
keduanya menggunakan sistem tempat duduk 2-3 saling berhadapan. Jadi, siapkan
kakimu, karena tidak bisa seenaknya menjulurkan kaki. Dan lagi, ketika menaiki
KA Garut Cibatuan, jika kamu beruntung maka kamu akan kebagian tempat duduk,
namun jika tidak beruntung, maka kamu akan berdiri sepanjang perjalanan. Sebaiknya
jangan terlalu mendekati waktu keberangkatan ketika melakukan boarding agar
masih ada kemungkinan kamu mendapatkan tempat duduk.
Total biaya perjalanan dari Stasiun Cikarang sampai Stasiun
Bandung adalah 12 ribu; Rp4.000,00 untuk KA Walahar dan Rp8.000,00 untuk KA
Garut Cibatuan. Ditambah tiket KRL dari stasiun awal keberangkatan sampai
Stasiun Cikarang kurang lebih Rp5.000,00. Jadi, total perjalanan dari Jakarta–Bandung sekitar 17 ribu.
Nah, jika kamu ingin menaiki kereta yang lebih eksklusif,
kamu bisa menaiki KA Argo Parahyangan yang berangkat dari Stasiun Gambir sampai
Stasiun Bandung. KA ini bisa kamu pesan dengan harga Rp150.000,00 untuk kelas
ekonomi premiun, atau Rp250.000,00 untuk kelas eksekutif.
Dengan waktu perjalanan selama tiga jam, kamu bisa duduk
manis atau tidur cantik sampai Stasiun Bandung dengan tenang apabila menaiki KA
Argo Parahyangan ini. Selain itu, KA ini
pilihan waktu keberangkatannya beragam. Mulai dari pagi sampai malam, kamu
bebas mau berangkat di waktu kapan saja.
*
Waktu memberi tahu bahwa sebentar lagi kereta akan berangkat.
Beruntung saya dan Firman sudah menemukan tempat duduk kami masing-masing. Kami
berada di gerbong 4, dengan nomor kursi 6A dan 6B, saya duduk di dekat jendela,
sementara Firman di sebelah saya. Di depan kami ada dua perempuan, satu
ibu-ibu, dan satu lagi mba-mba mahasiswi.
Pukul 17.40 tepat kereta mulai berjalan meninggalkan Stasiun Pasarsenen.
Dari balik kaca jendela kereta, saya melihat matahari di kejauhan sana mulai
meredup. Gugusan awan perlahan mulai buram. Langit berubah warna dari jingga
menuju kelam, menuju gelapnya malam. Perjalanan kami menuju Bandung terasa
syahdu malam ini. Perjalanan yang membawa saya pada pencarian atas makna dan
jati diri, tentang siapa aku, dan bagaimana seharusnya hidup ini dijalani.
Sayup terdengar dari dalam kereta, kumandang azan magrib di
kejauhan sana. Menandakan bahwa hari sudah bertransisi dari terang menuju
gelap. Menandakan bahwa siapa sesungguhnya kita ini, yang sesekali berada dalam
terang dan gelapnya cahaya hidayah.
Bersambung...
x
Komentar
Posting Komentar