Teman-teman, apa yang akan terjadi apabila kita menanam sebuah benih di dalam tanah, menyiramnya dengan air, kemudian memberinya cukup ruang untuk menangkap sinar matahari? Pada minggu pertama akarnya akan tumbuh. Pada minggu kedua, benih tersebut akan semakin merambatkan akar-akarnya. Lalu, pada minggu ketiga, benih tersebut akan tumbuh secara vertikal, membentangkan dahan dan daunnya. Dan seiring berjalannya waktu, benih tersebut akan menjadi pohon yang kokoh dan menghasilkan buah yang bermanfaat bagi orang lain.
Teman-teman, fitrah alam
mengajarkan kepada kita bahwa pertumbuhan tanaman selalu diawali dari
pertumbuhan akar yang sehat dan kuat. Karena akar mendahului segalanya.
Serupa tapi tak sama, sebuah
generasi pun tidak akan tumbuh menjadi poros baru dunia apabila ia tidak
memiliki akar yang menjalar ke tanah untuk mengambil nutrisi air.
Generasi muda merupakan gerak
alami dari sebuah generasi yang tengah merespons tantangan zaman. Generasi muda
merespons zaman dengan cara kembali ke akar ke-Indonesiaan. Kembali kepada
sejarah. Di mana negara ini dibentuk oleh para pemuda.
Sumpah Pemuda menyadarkan kita
bahwa benih bangsa ini ditanam oleh para generasi muda pada zamannya. Sumpah
Pemuda merupakan momen kebangkitan kesadaran budaya, identitas, ideologi, dan
spiritual Bangsa Indonesia. Kesadaran tersebut menggerakkan para pemuda dari
berbagai lapisan pada saat itu untuk berkumpul dalam berbagai macam pergerakan
kelompok secara massif dan teroganisir. Semangat melawan kolonialisme menjadi
perekat emosional antara kelompok Jong (pemuda) di suatu daerah dengan kelompok
Jong di daerah lain.
Kesadaran inilah yang kemudian
disatukan oleh semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi tetap satu
jua. Persatuan bangsa ini tidak terlepas dari keragamannya. Persatuan yang
digagas oleh para founding fathers dalam Sumpah Pemuda adalah persatuan
yang tidak meninggalkan nilai keragaman. Keragaman akan tetap abadi
keberadaannya, karena keragamanlah yang menyadarkan identitas kita sebagai
bagian dari suatu bangsa. Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan apa yang
kita sebut sebagai “Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa”.
Teman-teman, pemikiran-pemikiran
tersebut yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda tentu tidak lahir dari
pemuda-pemuda yang biasa-biasa saja. Sumpah Pemuda tidak lahir dari pemuda yang
duduk termangu menunggu buah jatuh. Tetapi Sumpah Pemuda lahir dari para pemuda
yang terus mencari dan menggali jati diri sebenarnya dari bangsa ini.
Kita lihat pemuda seperti
Soekarno, seorang pemuda yang menjadi inisiator para pemuda sezamannya.
Soekarno bukanlah seorang pemuda sembarangan. Soekarno menguasai berbagai
bidang dan ilmu pengetahuan, sehingga tak heran jika fakta mengatakan bahwa
selama hidupnya, Soekarno membaca lebih dari lima buku dalam sehari. Begitu
juga Mohammad Yamin, yang pada usia 20 tahun sudah mampu menerjemahkan karya
sastra berbahasa Belanda, Huis en Waereld, ke dalam bahasa Indonesia.
Dan Mohammad Yamin juga telah menulis 40 buku sepanjang hidupnya.
Selain berasal dari kualitas
individu, para pemuda pada masa itu juga terbiasa pada aktivitas diskusi.
Mereka memanfaatkan tempat-tempat umum di mana pun juga untuk berdiskusi dan
bermusyawarah menentukan konsep negara ini. Konsep ke-Indonesiaan yang digagas
dalam Sumpah Pemuda lahir dari imajinasi-imajinasi. Dan imajinasi lahir dari
bacaan, observasi, analisis, diskusi, dan musyawarah.
Untuk itu, di hari peringatan
Sumpah Pemuda ini marilah kita kembali kepada akar kita, kembali kepada
sejarah, di mana bangsa ini tidak dibangun oleh pemuda yang sembarangan.
Jadilah pemuda yang terus mencari dan mempelajari banyak hal. Jadilah pemuda
yang terus bertanya dan tidak duduk termangu. Karena kitalah yang akan
meneruskan perjuangan bangsa ini ke depan.
Bangsa ini lahir dari keragaman.
Jadilah apa yang kita semua cita-citakan. Jadilah ahli dalam bidangnya. Menjadi
dokter, guru, polisi, militer, desainer grafis. Jadilah apa pun yang kalian
suka. Tapi ingat, cita-cita itu harus didasari oleh persatuan.
Komentar
Posting Komentar