4
Hari Minggu berikutnya kami mengendarai
Model-T untuk mencari Paman John.
“Dia tidak punya ambisi,” kata
ayahku. “Aku tidak tahu bagaimana ia bisa mengangkat kepalanya dan menatap
orang lain.”
“Aku harap ia tidak lagi mengunyah
tembakau,” kata ibuku. “Dia meludahkannya ke mana-mana.”
“Jika negara ini penuh oleh
orang-orang seperti dia, orang-orang Cina akan mengambil alih dan kita akan
membuka usaha binatu ...”
“John tidak pernah punya
kesempatan,” kata ibuku. “Ia kabur dari rumah lebih dahulu. Setidaknya kau bisa
menempuh pendidikan SMA.”
“Kuliah,” kata ayah.
“Di mana?” tanya ibu.
“Universitas Indiana.”
“Jack berkata kau cuma sampai SMA.”
“Jack yang cuma sampai SMA. Itulah
kenapa ia bekerja sebagai tukang kebun untuk orang kaya.”
“Apakah aku akan bertemu dengan
Paman Jack?” tanyaku.
“Pertama-tama marilah kita lihat apa
kita bisa menemukan pamanmu John,” kata ayahku.
“Apakah orang-orang Cina benar-benar
akan merebut negara kita?” tanyaku.
“Iblis-iblis kuning itu telah
menunggu berabad-abad untuk melakukan itu. Apa yang menghentikan mereka adalah
kesibukan bertarung dengan orang-orang Jepang.”
“Siapa petarung yang paling hebat,
orang-orang Cina atau orang-orang Jepang?”
“Orang Jepang. Masalahnya di sini
terlalu banyak orang Cina. Ketika kau membunuh seorang Cina, ia akan terbelah
dan menjadi dua orang.”
“Bagaimana bisa kulit mereka menjadi
kuning?”
“Karena daripada minum air mineral
mereka lebih memilih minum air kencing mereka sendiri.”
“Ayah, jangan berbicara
seperti itu kepada anakmu!”
“Kalau begitu katakan padanya untuk
berhenti bertanya.”
Kami berkendara melewati Los Angeles
yang hangat. Ibu mengenakan gaun yang cantik dan topi mewah. Ketika ibuku sedang
berdandan ia selalu duduk tegak dan menjaga lehernya begitu kaku.
“Aku harap kita punya cukup uang
sehingga kita bisa membantu John dan keluarganya,” kata ibuku.
“Bukan kesalahanku jika dia tidak
punya satu pun kloset untuk kencing,” jawab ayahku.
“Ayah, John ikut berperang sama
sepertimu. Tidakkah kau berpikir ia layak untuk mendapatkan sesuatu?”
“Dia tidak pernah naik pangkat.
Sedangkan aku menjadi sersan utama.”
“Henry, tidak semua saudaramu bisa
sepertimu.”
“Mereka tidak pernah punya dorongan
apa pun. Mereka pikir mereka bisa hidup dari tanah ini!”
Kami berkendara cukup jauh. Paman
John dan keluarganya tinggal di sebuah istana kecil. Kami menaiki trotoar retak
menuju teras yang sudah melemah dan ayahku menekan bel. Belnya tidak berdering.
Ia mengetuk dengan keras.
“Buka pintu! Polisi di sini!” teriak
ayahku. “Ayah, hentikan!” kata ibuku.
Setelah waktu yang lama, pintu
terbuka sedikit. Lalu terbuka lebar. Dan kami dapat melihat Bibi Anna. Ia
sangat kurus, pipinya cekung dan matanya berkantung, berkantung gelap. Suaranya
lirih sekali.
“Oh, Henry ... Katherine ... silakan
masuk ...”
Kami masuk ke dalam. Perabotannya
sedikit sekali. Ada satu sudut makan dengan satu meja dan empat kursi dan dua
ranjang. Ibu dan ayah duduk di kursi. Dua anak perempuan, Katherine dan Betsy
(aku baru mengetahuinya belakangan) sedang berada di westafel secara bergiliran
mencoba mengeluarkan selai kacang dari toplesnya yang hampir kosong.
“Kami baru saja makan siang,” kata
Bibi Anna.
Gadis-gadis itu datang membawa
sedikit selai kacang yang mereka oleskan pada potongan roti kering. Mereka
tetap menatap ke dalam toples dan mengolesnya dengan pisau.
“Di mana John?” tanya ayah.
Bibiku duduk dengan letih. Ia
terlihat sangat lelah, sangat pucat. Gaunnya kotor, rambutnya kusut, lelah,
sedih.
“Kami telah menunggunya. Kami tidak
melihatnya beberapa waktu ini.”
“Ke mana ia pergi?”
“Aku tidak tahu. Ia pergi dengan
sepeda motornya.”
“Semua yang dilakukannya,” kata
ayahku, “hanya tentang sepeda motornya.”
“Apakah ini Henry, Jr.?”
“Betul.”
“Ia hanya memperhatikan. Ia amat
pendiam.”
“Itulah yang kami inginkan darinya.”
“Air masih mengalir deras.”
“Tidak dengan yang satu ini.
Satu-satunya yang mendalam pada dirinya adalah lubang telinganya.”
Kedua gadis mengambil potongan roti
dan berjalan keluar dan duduk di beranda untuk memakan rotinya. Mereka tidak
berbicara kepada kami. Aku pikir mereka sangat pendiam. Mereka sangat kurus
seperti ibunya, tetapi mereka tetap cantik.
“Bagaimana kabarmu, Anna?” tanya
ibuku.
“Aku sangat baik.”
“Anna, kau terlihat tidak begitu
baik. Menurutku kau membutuhkan makanan.”
“Kenapa anakmu tidak duduk?
Duduklah, Henry.”
“Ia suka berdiri,” kata ayahku. “Itu
akan membuatnya kuat. Ia sudah siap berkelahi dengan orang-orang Cina.”
“Apakah kau tidak menyukai
orang-orang Cina?” tanya bibi kepadaku. “Tidak,” jawabku.
“Baiklah, Anna,” kata ayahku,
“Bagaimana kabarmu?”
“Buruk sekali, sungguh ... Pemilik
rumah terus bertanya mengenai biaya sewa. Ia menjadi sangat jahat. Ia membuatku
takut. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.”
“Aku dengar para polisi mengejar
John,” kata ayahku. “Ia tidak pernah melakukan yang terbaik.”
“Apa yang ia lakukan?”
“Ia membuat beberapa uang receh
palsu.” “Uang receh? Yesus Kristus, apa tujuannya melakukan itu?” “John
sebenarnya tidak ingin menjadi jahat.”
“Menurutku ia tidak ingin menjadi apa
pun.”
“Yaah. Dan jika seekor katak
memiliki sayap, ia tidak akan kehabisan tenaga!”
Saat itu hening dan mereka duduk di
sana. Aku berbalik arah dan melihat ke luar. Para gadis sudah tidak ada di
beranda, mereka pergi entah ke mana.”
“Kemari, duduklah, Henry,” kata
Tante Anna. Aku berdiri di sana. “Terima kasih, aku baik-baik saja.”
“Anna,” ibuku bertanya, “apakah kau
yakin John akan kembali?”
“Ia akan kembali ketika sudah lelah
dengan ayam-ayamnya,” kata ayahku.
“John mencintai anak-anaknya ...”
kata Anna.
“Aku dengar para polisi mengejarnya
karena sesuatu yang lain.”
“Apa?”
“Pemerkosaan.”
“Pemerkosaan?”
“Ya, Anna, aku dengar begitu. Ia
tengah mengendarai sepeda motornya suatu hari. Seorang gadis muda ikut
menumpang. Ia menaiki sepeda motor John dan ketika mereka sedang melaju
tiba-tiba John melihat sebuah garasi kosong. Ia masuk ke sana, membuka pintunya
dan memperkosa si gadis.”
“Bagaimana kau menemukannya?”
“Menemukan? Para polisi datang dan
memberitahuku, mereka bertanya kepadaku mengenai keberadaannya.”
“Apakah kau menceritakannya kepada
mereka?”
“Untuk apa? Untuk mengirim ia ke
penjara dan menghindarkannya dari tanggung jawab? Itulah yang ia inginkan.”
“Aku tak pernah terpikir seperti itu.”
“Bukannya aku mendukung pemerkosaan
...”
“Terkadang seorang lelaki tidak bisa
membantu apa yang dilakukannya.”
“Apa?”
“Menurutku, setelah memiliki anak,
dan dengan kehidupan seperti ini, kekhawatiran dan sebagainya ... aku tidak
melihat segalanya sangat baik. Ia melihat seorang gadis, ia terlihat baik
padanya ... ia menaiki sepeda motornya, kau tahu, ia merangkulkan ...”
“Apa?” tanya ayahku. “Bagaimana bisa
kau ingin diperkosa?”
“Kurasa aku tidak akan menyukainya.”
“Yaa, aku yakin gadis itu tidak
menyukainya.”
Seekor lalat muncul dan
berputar-putar di sekitar meja. Kami menontonnya.
“Tidak ada yang bisa dimakan di
sini,” kata ayahku. “Lalat itu datang ke tempat yang salah.”
Lalat itu menjadi semakin berani. Ia
berputar lebih dekat dan mengeluarkan suara mendengung. Semakin dekat ia
berputar, semakin keras pula dengungannya.
“Kau tidak akan menceritakan kepada
polisi perihal John setelah sampai rumah, kan?” tanya bibiku kepada ayah.
“Aku tidak akan membiarkannya lepas
begitu saja,” kata ayahku.
Tangan ibuku melayang begitu cepat.
Tangannya mendekat dan ia kembali menurunkan tangannya dari atas meja.
“Aku berhasil menangkap mereka,”
katanya.
“Menangkap apa?” tanya ayahku.
“Lalat,” ibuku tersenyum.
“Aku tidak percaya padamu ...”
“Kau lihat lalat di mana-mana?
Mereka sudah pergi.”
“Mereka terbang.”
“Tidak, mereka ada di dalam
tanganku.”
“Omong kosong.”
“Kau tidak percaya kepadaku?”
“Tidak.”
“Buka mulutmu.”
“Baiklah.”
Ayah membuka mulutnya dan ibu
menangkupkan tangannya di atasnya. Ayahku melompat, mencengkram lehernya.
“YESUS KRISTUS!”
Lalat itu keluar dari mulutnya dan
mulai memutari meja lagi.
“Cukup,” kata ayahku, “kami akan
pulang ke rumah!”
Ia bangkit dan berjalan menuju pintu
dan menyusuri jalan setapak dan masuk ke dalam Model-T dan duduk di sana dengan
sangat kaku, tampak berbahaya.
“Kami membawakanmu beberapa kaleng
makanan,” kata ibu kepada tanteku. “Aku minta maaf tidak dapat memberi uang,
tetapi Henry takut John menggunakannya untuk membeli gin, atau bensin untuk
sepeda motornya. Tidak terlalu banyak: sop, hash, kacang polong ...”
“Oh, Katherine, terima kasih! Terima
kasih, semuanya ...”
Ibuku bangkit dan aku mengikutinya.
Ada dua kotak makanan kaleng di dalam mobil. Aku melihat ayahku sedang duduk
dengan kaku. Ia masih marah.
Ibu memberiku kaleng paling kecil
dan ia mengambil kaleng terbesar dan aku mengikutinya kembali ke beranda. Kami
meletakkan kaleng-kaleng itu di sudut ruang makan. Tante Anna datang dan
mengambil sekaleng. Itu kaleng berisi kacang polong, label di atasnya ditutup
dengan kacang hijau bulat kecil.
“Ini indah sekali,” kata tanteku.
“Anna, kita harus pergi. Martabat
Henry cukup terganggu.”
Bibi memeluk ibuku. “Semuanya sangat
buruk. Tapi ini seperti mimpi. Tunggu sampai para gadis kembali ke rumah.
Tunggu sampai para gadis melihat semua kaleng makanan ini!”
Ibu balas memeluk bibiku. Kemudian
mereka berpisah.
“John bukanlah orang jahat,” kata
bibiku.
“Aku tahu,” jawab ibuku. “Selamat
tinggal, Anna.”
“Selamat tinggal, Katherine. Selamat
tinggal, Henry.”
Ibuku berbalik dan keluar menuju
pintu. Aku mengikutinya. Kami berjalan menuju mobil dan masuk ke dalam. Ayahku
menyalakan mobilnya.
Ketika kami melaju pergi, aku
melihat bibiku melambai di depan pintu. Ibuku balas melambai. Ayahku tidak
membalas lambaiannya. Aku juga tidak.
5
Aku mulai tidak menyukai ayahku. Ia
selalu marah terhadap sesuatu. Di mana pun ia pergi ia selalu memenangkan
argumen dengan orang-orang. Tetapi kemunculannya tidak menakuti orang
kebanyakan; mereka hanya menatapnya, dengan tenang, dan ia menjadi sangat
marah. Jika kami makan di luar, yang sangat jarang terjadi, ia selalu menemukan
kesalahan pada makanan dan terkadang menolak untuk membayarnya. “Ada lalat
sialan di dalam krim kocok ini! Tempat macam apa ini?”
“Aku minta maaf, Sir, kau tidak
perlu membayarnya. Silakan keluar.”
“Baiklah, aku akan keluar! Tapi aku
akan kembali! Akan kubakar tempat terkutuk ini!”
Ketika kami berada di toko obat dan
ibuku dan aku berdiri di satu sisi sementara ayahku berteriak ke seorang
petugas. Petugas lain bertanya kepada ibuku, “Siapa lelaki mengerikan itu?
Setiap ia datang ke sini selalu terjadi pertengkaran.”
“Itu suamiku,” ibuku memberitahu
kepada petugas.
Aku ingat benar suatu waktu. Ia
sedang bekerja menjadi seorang penjual susu dan harus mengantarkannya pagi-pagi
benar. Satu pagi ia membangunkanku. “Ayo, aku akan menunjukkan sesuatu
kepadamu.” Aku berjalan keluar bersamanya. Aku masih mengenakan piyama dan sandal.
Hari masih sangat gelap, bulan masih menggantung di atas sana. Kami berjalan
menuju kereta susu yang ditarik kuda. Kudanya berdiri sangat tegak.
“Perhatikan,” kata ayahku. Ia mengambil gula batu, meletekannya di dalam
tangannya dan mengulurkannya kepada kuda itu. Kuda itu memakannya dari telapak
tangannya. “Sekarang kau cobalah ...” Ia meletakkan gula batu di tanganku. Itu
adalah kuda yang sangat besar. “Mendekatlah! Ulurkan tanganmu!” Aku takut kuda
itu akan mengigit tanganku. Kepalanya menunduk; aku melihat lubang hidungnya;
bibirnya ditarik ke belakang, aku melihat lidah dan giginya, dan lalu gula batu
itu sudah tidak ada. “Ini. Coba lagi ..” Aku mencoba lagi. Kuda itu mengambil
gula batu dan menggoyang-goyangkan kepalanya. “Sekarang,” kata ayahku, “aku
akan membawamu kembali ke dalam sebelum kuda itu menyerangmu.”
Aku tidak diizinkan bermain dengan
anak-anak lain. “Mereka anak-anak yang buruk,” kata ayahku, “orangtua mereka
miskin.”
“Betul,” ibuku setuju. Orang tuaku
ingin menjadi kaya, jadi mereka membanyangkan diri mereka kaya.
Anak pertama yang sepantaran
denganku yang aku kenal berada di taman kanak-kanak. Mereka tampak sangat
asing, mereka tertawa dan berbicara dan tampak gembira. Aku tidak menyukai
mereka. Aku selalu merasa seolah-olah aku akan sakit, muntah, dan udara terasa
tenang dan putih. Kami melukis dengan cat air. Kami menanam biji lobak di kebun
dan beberapa pekan kemudian kami memakannya dengan garam. Aku menyukai seorang
perempuan yang mengajar di taman kanak-kanak, aku suka karena ia lebih baik
dari orang tuaku. Satu masalah ketika aku ingin pergi ke kamar mandi. Aku
selalu ingin ke kamar mandi, tapi aku malu memberitahu yang lain kalau aku
harus pergi, jadi aku menahannya. Sungguh mengerikan menahannya. Dan ketika
udara dingin, aku merasa ingin muntah, aku seperti merasa buang air besar dan
kencing. Dan ketika yang lain kembali dari kamar mandi, aku berpikir, kau
jorok, kau melakukan sesuatu di sana ...
Gadis-gadis kecil itu sangat cantik
dengan gaun pendek mereka, dengan rambut panjang mereka dan mata cantik mereka,
tapi aku pikir, mereka juga melakukannya di sana, meskipun mereka berpura-pura
tidak melakukannya.
Taman kanak-kanak sebagian besar
bernuansa putih ...
Sekolah dasar berbeda, kelas satu
sampai enam, beberapa anak-anak berusia dua belas tahun, dan kami semua berasal
dari permukiman miskin. Aku pergi ke kamar mandi, tetapi hanya untuk kencing.
Setelah keluar aku melihat anak kecil minum air pancuran. Seorang anak yang
lebih besar berjalan di sampingnya dan membenamkan wajahnya ke semprotan air.
Ketika si anak kecil mendongakkan kepalanya, beberapa giginya rusak dan darah
keluar dari mulutnya, ada darah di pancuran. “Kamu cerita ke semua orang
tentang ini,” bocah yang paling tua memperingatkannya, “habis kamu.” Si bocah
mengeluarkan sapu tangan dan mengelap mulutnya. Aku kembali ke kelas ketika Bu
Guru sedang bercerita tentang George Washington dan Valley Forge. Dia
mengenakan wig putih rumit. Bu Guru sering memukul telapak tangan kami dengan
penggaris ketika dia pikir kami membangkang. Kupikir Bu Guru tidak pernah ke
kamar mandi. Aku benci dia.
Setiap sore setelah pulang sekolah
pasti akan ada perkelahian antara dua murid senior. Perkelahian itu selalu
terjadi di pagar belakang sekolah yang tidak ada seorang guru pun berada di
sana. Dan perkelahian itu tidak pernah ketahuan; selalu murid besar melawan
murid kecil dan si murid besar mengalahkan di murid kecil dengan tinjunya,
mendorongnya hingga ke pagar. Si murid kecil mencoba melawan balik tapi itu tak
berguna. Segera wajahnya berdarah, darah itu mengalir hingga ke bajunya. Si
murid kecil menerima pukulan itu tanpa berkata-kata, tanpa memohon ampun, dan
tanpa meminta belas kasihan. Akhirnya, si murid yang lebih besar mundur dan
perkelahian berakhir dan semua murid berjalan pulang bersama si pemenang. Aku
pulang ke rumah cepat-cepat, sendiri, setelah menahan semua keberengsekan di
sekolah dan semua perkelahian. Biasanya ketika aku sampai rumah aku tidak mau
kencing lagi. Aku selalu khawatir tentang itu.
6
Aku tidak punya teman seorang pun di
sekolah, tidak pernah mau. Aku merasa lebih baik sendiri. Aku duduk di kursi
dan memperhatikan yang lain bermain dan mereka tampak bodoh bagiku. Ketika
makan siang suatu hari aku didekati oleh seorang anak baru. Dia mengenakan celana
pendek, bermata juling dan kakinya bengkok ke dalam. Aku tak suka dia, dia bukan
anak yang tampan. Dia duduk di sampingku.
“Halo, namaku David.”
Aku tidak menjawab.
Dia membuka bekal makan
siangnya.”Aku bawa sandwich selai kacang,” katanya. “Kamu bawa apa?”
“Sandwich selai kacang.”
“Aku bawa pisang juga. Dan beberapa
keripik kentang. Kamu mau keripik kentang?”
Aku mengambil beberapa. Dia punya
banyak, krispi dan asin, matahari bersinar di sebelah kanannya. Lumayan.
“Boleh minta lagi?”
“Tentu.”
Aku mengambil beberapa. Bahkan dia
punya jelly di atas sandwich-nya. Menetes dan mengalir dari jari-jarinya. David
tidak menyadarinya.
“Kamu tinggal di mana?” tanyanya.
“Jalan Virginia.”
“Aku tinggal di Pickford. Kita bisa
pulang bareng setelah sekolah. Ambil lagi keripik kentanngnya. Siapa gurumu?”
“Mrs. Columbine.”
“Guruku Mrs. Reed. Aku akan
menemuimu setelah kelas, kita pulang bareng nanti.”
Kenapa dia pakai celana pendek? Apa
yang dia mau? Aku benar-benar tak suka dia. Aku mengambil lagi keripik
kentangnya.
Sore harinya, setelah selesai kelas,
dia menemuiku dan berjalan di sampingku. “Kamu belum kasih tahu siapa namamu,”
katanya.
“Henry,” kujawab.
Selama kami berjalan aku menyadari
ada sekolompok bocah, siswa kelas satu, mengikuti kami. Awalnya mereka berada
setengah blok di belakang kami, kemudian mereka mempersempit jarak hingga
beberapa meter di belakang kami.
“Mereka mau apa?” Aku bertanya
kepada David.
Dia tidak menjawab, hanya terus
berjalan.
“Hei, Sempak!” salah seorang di
antara mereka berteriak. “Ibu lu yang ngajarin berak di dalem celana, ya?”
“Pengkor, ho-ho, pengkor!”
“Juling! Mati aja lu!”
Lalu mereka mengelilingi kami.
“Siapa temenlu? Apa dia nyium
pantatlu?”
Salah seorang dari mereka
mencengkeram kerah baju David. Dia mendorong David sampai jatuh ke atas rumput.
David berdiri. Seorang bocah berjongkok di belakang David dengan tangan dan
lututnya. Seorang yang lain mendorongnya dan David jatuh ke belakang. Seorang
bocah yang lain menggulingkannya secara berlebihan dan menggosok wajahnya
dengan rumput. Kemudian mereka mundur. David berdiri lagi. Dia tidak tidak
bersuara sama sekali tetapi air matanya mengalir dari wajahnya. Bocah berbadan
besar berjalan di depannya. “Kami gak mau kamu di sekolah kami, Banci. Keluar
dari sekolah kami!” Dia menonjok perut David. David membungkuk dan selagi dia
menahan sakit, seorang bocah menendang wajah David dengan lututnya. David
terjatuh. Hidungnya mimisan.
Kemudian para bocah itu
mengelilingiku. “Sekarang gantian kamu!” Mereka memutari dan aku tetap waspada.
Ada beberapa orang di belakangku. Aku menunggu dan bersiap berkelahi. Aku takut
dan tenang secara bersamaan. Aku tak tahu apa tujuan mereka. Mereka tetap
mengelilingku dan aku terus berputar. Terus berlanjut tanpa henti. Mereka
meneriakkan sesuatu kepadaku tetapi aku tidak mendengar apa yang mereka
katakan. Akhirnya mereka mundur dan pergi menjauh. David menungguku. Kami
berjalan menyusuri trotoar menuju rumahnya di Jalan Pickford.
Kemudian kami sampai di depan
rumahnya.
“Aku duluan. Dadah.”
“Dadah, David.”
Dia masuk ke dalam rumahnya dan aku
mendengar suara ibunya. “David! Lihat celana dan bajumu! Sobek dan penuh
noda rumput! Kamu sering begini setiap hari! Cerita ke Mama, kenapa kamu
melakukan ini?”
David tidak menjawab.
“Mama tanya ke kamu! Kenapa baju
kamu selalu kotor?”
“Aku enggak tahu, Ma...”
“Kamu enggak tahu? Bodoh
kamu!”
Aku mendengar ibunya memukulinya.
David mulai menangis dan ibunya terus memukulinya semakin keras. Aku berdiri di
depan dan mendengar. Setelah beberapa lama ibunya berhenti memukul. Aku bisa
mendengar David sesegukan. Kemudian dia berhenti.
Ibunya berkata, “Sekarang, mama mau
kamu praktek hasil latihan biola kamu.”
Komentar
Posting Komentar