Langsung ke konten utama

Solilokui Ulang Tahun

Sebelum kita memulai wawancara ini, bisakah kamu menjelaskan mengapa tulisan ini dibuat secara tanya-jawab?

Ya. Saya ini termasuk orang yang lemah dalam membuka sebuah tulisan. Saya sering terjebak pada kalimat pertama. Saya ini tipe orang yang tidak biasa berbasa-basi, jadi ya saya lebih mudah menjelaskan sesuatu secara apa adanya.

Selain itu, alasan mengapa saya memilih tanya-jawab adalah karena saya orang yang lemah dalam mengungkapkan sesuatu secara panjang-lebar. Saya ini orang yang tidak bisa berbicara lebih dari 10 menit, dan karena itu, saya menggantungkan pikiran-pikiran saya dengan tulisan.

Baik. Langsung saja kita mulai wawancara ini. Saat ini kamu sudah menjalani kehidupan selama 19 tahun, lalu apa yang sudah kamu dapatkan selama masa hidupmu?

Saya ini tipe orang yang biasa saja dalam menjalani kehidupan. Tapi bohong juga, bila saya mengatakan tidak mendapat apa-apa selama hidup saya.

Saya selalu bersyukur karena hidup ini berisi dengan berbagai ilmu, dan itulah yang membuat hidup saya berarti. Saya tidak memandang harta sebagai pencapaian saya. Tidak pula jabatan ataupun prestasi. Saya sendiri pun bingung menjawab apa yang sudah saya dapatkan selama hidup saya, karena semua yang saya dapatkan akan hilang dan berganti. Saya menjalani kehidupan sebagaimana mestinya kehidupan dijalani. Meskipun saya masih terus belajar untuk itu.

Adakah pencapaian yang belum berhasil kamu dapatkan selama ini?

Saya tidak pernah menaruh sebuah pencapaian, karena saya selalu menjalani kehidupan ini dengan spontan. Saya tidak pernah menaruh target dalam hidup saya. Dan ya... seperti kehidupan orang-orang, hidup saya ini penuh dengan pencapaian tanpa “pen-” dan “-an”.

Kamu sudah 19 tahun, kalau dalam bahasa kebidanan usiamu sudah memasuki dewasa. Adakah wanita yang kamu cintai untuk masa depanmu?

Saya selalu bingung menjawab siapa orang yang saya cintai. Saya ini tidak percaya pada cinta sebelum pernikahan. Dan mungkin itu pula yang membuat saya menjauhi pacaran, karena saya selalu geli melihat orang mesra-mesraan sebelum waktunya. Meskipun sebagai remaja sesekali saya selalu merasa galau, tapi saya sendiri tidak tahu menggalaukan siapa.

Berkali-kali saya mencoba mencintai orang lain, tapi berkali-kali pula saya mematahkan hati saya sendiri untuk cinta yang seutuhnya.

Adakah target di umur berapa kamu akan menikah?

Masih terlalu jauh saya memikirkan pernikahan. Saya belum kepikiran untuk itu. Tapi ada beberapa kali saya ingin menikah muda, tapi beberapa kali juga saya tidak ingin menikah terlalu terburu-buru.

Mengapa kamu memilih Filsafat?

Terlalu sulit menjawab pertanyaan mengapa, dan terlalu panjang untuk menjelaskannya. Semua ini karena saya mencintai Sejarah.

Bisakah kamu menjelaskan mengapa semua ini berawal dari Sejarah?

Saya tidak ingin menjelaskannya dalam tulisan ini. Saya hanya ingin menjawab secara langsung kepada orang-orang yang bertanya mengenai pertanyaan ini.

Apa keinginanmu di umur 19 tahun ini?

Pulang. Saya ingin pulang. Saya ingin istirahat sebentar sebelum melanjutkan tugas saya selanjutnya sebagai manusia di bumi.

Saya ini orang yang lahir di kampung. Tapi saya tidak pernah benar-benar mengenal kampung saya sendiri. Selama ini saya tinggal di perantauan dan saya selalu merasa asing.

Berkali-kali saya mencoba menjadi penduduk asli di tanah perantauan, tapi berkali-kali pula saya disadarkan oleh bahasa setempat. Saya sadar saya dibesarkan dengan bahasa ibu saya, dan saya sering kali membunuh bahasa ibu saya demi bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat. Karena itu saya ingin pulang. Pulang untuk mengenal kampung saya. Pulang untuk mengenal diri saya sendiri. Tapi apakah orang-orang di kampung saya mengenal saya? Atau saya hanya akan menjadi orang asing di tanah kelahiran saya sendiri?

Apakah saat ini kamu menikmati hidupmu?

Ya, saya selalu bersyukur hidup di tempat saya bisa menikmati kehidupan ini. 

Meskipun sering kali hidup saya diganggu oleh datangnya pilihan. Dan saya membenci diri saya yang tidak mampu memilih pilihan. Selama ini saya selalu memilih ”antara” di antara kedua pilihan hidup. Saya selalu berpikir saya sanggup menjalani keduanya, tapi berkali-kali pula saya dihancurkan karena pilihan saya yang memilih “antara” di antara kedua pilihan.

Apa tujuan kamu dalam hidup ini?

Saya tidak pernah membuat tujuan jangka panjang dalam hidup saya. Karena saya menganggap tidak ada tujuan yang pasti dalam kehidupan ini.

Saya selalu mengatakan bahwa kehidupan ini adalah sekumpulan kesempatan. Dan setidaknya saya selalu melanjutkan kehidupan dengan memanfaatkan setiap kesempatan yang datang.

Saya selalu menaruh keyakinan bahwa tujuan pasti dari kehidupan ini adalah “Innalillahi wa innailihi raji’un”, kembali kepada Rabb saya. Melihat Tuhan saya adalah kenikmatan tertinggi, dan karena untuk bisa mendapatkan kesempatan itu harus memasuki surga, saya ingin masuk surga. Tapi tetap, surga bukanlah tujuan akhir. Di mana pun saya nanti berada; surga atau neraka, jika saya sudah melihat Rabb saya, itu adalah tujuan akhir saya sebagai seorang hamba. Saya ingin menyatu dengan-Nya, meskipun saya selalu merasa malu melihat diri saya yang kotor ini.

Apakah kamu memilki rencana jangka pendek ke depannya?

Berkali-kali saya mengatakan kepada orang-orang yang bertanya mengenai ini bahwa hidup saya selalu spontan. Saya tidak pernah memiliki rencana untuk ke depannya. Dan karena prinsip hidup saya menganggap bahwa hidup ini adalah sekumpulan kesempatan, saya selalu berusaha melakukan yang terbaik dari setiap pekerjaan yang diberikan kepada saya.

Beberapa bulan lalu saya ditawari untuk suatu pekerjaan. Jadi ya, mungkin saja setelah lulus kuliah nanti, saya akan menjalani pekerjaan itu. Setidaknya, saya tidak perlu khawatir tentang hari depan, sebagaimana matahari selalu terbit setiap pagi untuk melihat saya menikmati hidup. Ya, meskipun lucu juga ketika saya mengatakan bahwa saya menikmati hidup di usia yang belum banyak tanggung jawab ini.

Selama ini kamu suka menulis, apakah tidak ada niat untuk menerbitkan buku?

Niat itu tentu selalu ada.

Buku memang media yang pas untuk kita diakui oleh orang-orang. Tetapi, entah mengapa saya suka muak melihat orang-orang yang baru saja terjun ke dunia kepenulisan, tapi sudah buru-buru membuat buku.

Saya tentu saja masih seorang pemula dalam dunia kepenulisan. Karena itu, saya selalu mempunyai prinsip bahwa saya tidak ingin menghabiskan pohon-pohon yang ada di bumi ini hanya untuk mencetak tulisan-tulisan saya yang jelek. Meskipun sulit, saya selalu ingin mencapai kesempurnaan dari setiap tulisan yang saya buat, setidaknya setelah mencapai kepuasan bagi diri saya sendiri.

Saya pribadi sedang mengerjakan sebuah proyek novel, dan sampai saat ini ceritanya masih belum selesai. Saya masih mengumpulkan bahan-bahan untuk membangun kualitas cerita. Semoga saja secepatnya novel ini bisa terselesaikan, dan semoga ada penerbit yang mau menerbitkannya nanti.

Bisakah kamu menceritakan siapa dirimu dan mengapa kamu suka menulis?

Sungguh sulit menjawab pertanyaan tentang siapa diri saya. Saya ini bukan siapa-siapa, dan saya tidak ada keinginan untuk dikenal oleh banyak orang. Saya adalah orang yang belum selesai dengan diri saya. Karena itu saya terus mencari.

Mengenai mengapa saya suka menulis, tentu saja tidak terlepas dari kesukaan saya, yaitu membaca. Bagi saya membaca adalah pekerjaan saya di dunia ini, dan sebagaimana kotoran, tulisan adalah kotoran yang sudah kebelet untuk segera dikeluarkan.

Tulisan adalah hasil dari aktivitas saya membaca, dan membaca adalah bentuk evaluasi saya terhadap tulisan yang sudah saya tulis.

Mengapa kamu suka membaca?

Saya suka membaca karena saya sudah bisa membaca. Alhamdulillah, sebelum tamat TK saya sudah lancar membaca, sehingga saya sudah menyukai buku semenjak kecil. Saya ingat ketika dulu setiap berkunjung ke supermarket, saya selalu menyempatkan diri ke bagian buku-buku dan peralatan sekolah. Saya suka sekali melihat-lihat buku yang disusun secara rapi di rak.

Tetapi, aktivitas membaca buku sempat terhenti ketika saya awal-awal masuk SMP. Keinginan membaca buku mulai bangkit kembali ketika saya merasakan jatuh cinta. Bisa dikatakan bahwa saya suka membaca buku karena jatuh cinta, dan saya suka menulis karena jatuh cinta. Kesukaan saya membaca buku juga kemudian bertambah ketika saya putus cinta, kesukaan menulis saya juga bertambah ketika putus cinta. Saya tidak punya alasan lagi untuk mengisi kesunyian saya selain membaca buku.

Buku pertama yang membuat saya ingin membaca buku adalah novel tetralogi Buru dari Pramoedya Ananta Toer. Tulisan-tulisan Pramoedya menyihir saya untuk tenggelam lebih dalam ke lautan kesusastraan, khususnya sastra Indonesia. Dari situlah kemudian berlanjut ke buku-buku yang lain.

Apa pandanganmu mengenai cinta?

Setiap orang pasti mendefinisikan cinta menurut perspektif masing-masing. Menurut saya, menjawab pertanyaan mengenai cinta sama sulitnya ketika menjawab pertanyaan mengapa saya menyukai seseorang.

Cinta menurut saya adalah suatu perasaan yang memberimu alasan mengapa kamu masih memilih hidup di dunia ini, dan kamu selalu siap untuk mengorbankan dirimu sendiri. Cintalah yang membuat hidup ini bermakna.

Aduh, maaf, kalau sekiranya definisi saya tidak bisa dipahami. Pikiran manusia selalu dibatasi oleh kata-kata, dan kata-kata tidak pernah menggambarkan pemikiran secara sesungguhnya. Dalam arti lain, apa yang kita ucapkan hanyalah omong kosong, di mana bahasa hanyalah simbol belaka. Begitu juga ketika saya mendefinisikan cinta pada paragraf di atas. Hanya omong kosong, tak perlu diseriusi.

Apa tujuan terbesarmu dari menulis?

Rahasia.

Bagaimana kamu mengungkapkan perasaan suka pada seseorang?

Saya selalu mengatakan secara apa adanya: aku menyukaimu. Walaupun setelah mengatakan itu, saya seperti ingin melakukan bunuh diri.

Apakah kamu mempunyai cita-cita menjadi seorang ustadz?

Saya tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang ustadz. Cita-cita saya sedari kecil adalah menjadi seorang sejarawan dan peternak susu kambing. Bagi saya, menjadi seorang ustadz perlu memiliki tanggung jawab keilmuan yang besar, dan saya belum merasa layak untuk memikul tanggung jawab yang besar itu.

Apa tujuan kamu belajar selama ini?

Untuk kepuasan saya sendiri.

Apakah kamu pernah kepikiran untuk menjadi guru?

Sesekali pernah terpikir, tapi saya merasa tidak cocok menjadi seorang guru. Saya perlu mengeluarkan energi yang sangat besar untuk berbicara di depan orang-orang. Saya akan berbagi apa yang saya miliki apabila ada orang lain yang bertanya, dan saya mampu menjawabnya.

Apakah kamu merasa capai dengan wawancara ini?

Tentu.

Apakah kamu ingin mengakhirinya?

Iya.

Baik, saya rasa cukup untuk wawancara kali ini. Senang bisa berbicara dengan diri saya sendiri. Semoga di lain waktu kita bisa melanjutkan wawancara ini. Terima kasih dan selamat ulang tahun!

Saya juga merasa senang dapat berbicara dengan diri saya sendiri. Terima kasih kembali atas ucapan selamat ulang tahunnya.

Komentar