Langsung ke konten utama

Apakah di Surga Ada Buku?

Bisa dikatakan bahwa saya ini adalah pencinta buku. Saya merasa bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah untuk membaca, dan itu memang sudah ditegaskan oleh wahyu pertama; iqra, bacalah.

Saking gandrungnya saya terhadap buku, saya sudah menganggap buku adalah istri pertama saya. Seperti halnya Bung Hatta, yang menganggap satu-satunya istri beliau sendiri adalah istri keduanya.

Saya membaca buku bukan karena ingin menjadi pintar atau dianggap sebagai orang pandai. Bukan, alasan saya membaca buku adalah untuk menikmati hidup. Kehidupan dunia yang membosankan, dengan banyaknya masalah dan orang-orang aneh, membuat saya bereskapisme ke dalam dunia buku. Membaca satu buku, mendorong saya untuk membaca buku yang lain. Begitu seterusnya. Hidup saya adalah perjalanan dari buku ke buku. Hingga saya menganggap, waktu hidup saya yang terbatas tidak cukup untuk membaca seluruh buku yang ada di dunia ini.

Dan pikiran itu membawa saya untuk membayangkan bahwa di akhirat nanti saya berjanji untuk membaca buku-buku yang belum sempat saya baca di dunia. Semoga Allah mewafatkan saya dalam keadaan husnul khatimah, sehingga saya termasuk ke dalam para penghuni Surga. Dan salah satu permintaan saya di Surga nanti adalah memiliki perpustakaan pribadi. Lalu, Allah Swt. dengan sedikit tertawa, mengabulkan permintaan saya. Oh, sungguh senangnya hati ini!

Bagi saya, kehidupan akhirat yang abadi sungguh sangat membosankan dan menakutkan. Untuk itu, saya ingin mengisinya dengan membaca buku, sambil sesekali bermain bersama bidadari Surga. Saya membayangkan perpustakaan pribadi saya adalah perpustakaan terlengkap sepanjang masa dunia-akhirat. Saya akan mengoleksi buku pertama yang ada di dunia, sampai buku terakhir yang terbit sebelum Kiamat. Dengan sebelumnya meminta kepada Allah untuk menguasai seluruh bahasa yang ada di dunia, saya mengisi waktu di Surga dengan membaca seluruh buku di dunia (termasuk buku-buku yang dilarang oleh pemerintah). Meskipun saya tidak tahu, membaca buku di akhirat adalah kegiatan yang bermanfaat atau tidak. Tapi saya tidak memiliki pikiran lain untuk mengisi keabadian yang membosankan di akhirat nanti selain membaca.

Kemudian, untuk menuangkan hasil bacaan saya, saya akan menulis buku di Surga nanti. Sambil berharap ada pencinta buku lainnya yang mendirikan usaha penerbitan. Saya membayangkan buku-buku saya dibaca oleh para penghuni Surga, termasuk para Nabi juga membaca tulisan saya. Menyenangkan, sekaligus juga membanggakan!

Tak lupa, buku-buku terbitan akhirat diberikan kelebihan dengan tidak mempan dibakar api neraka. Lalu, buku-buku itu didistribusikan kepada para penghuni Neraka sebagai penghibur sementara dari kerasnya siksa Neraka. Tak ketinggalan, para Malaikat juga ikut membaca buku di sela-sela tugas mereka.

Betapa akhirat adalah cerminan utopis dunia literasi. Membayangkan semua manusia, jin, iblis, Malaikat, dan semua makhluk di akhirat mengisi waktu dengan membaca dan menulis buku. Sambil sesekali saling berbagi referensi bacaan masing-masing. Tak lupa juga, para kritikus sastra menulis kritik-kritiknya terhadap buku-buku terbitan akhirat. Membandingkan kritikan mana yang paling keras; kritikus dari Surga, atau kritikus dari Neraka?

Buku-buku hidup! Diskusi hidup! Literasi hidup! 

Saya juga membayangkan para penduduk Neraka membaca buku-buku Karl Marx. Kemudian saking terpengaruhnya oleh buku-buku Karl Marx, para penduduk Neraka melakukan sebuah revolusi, dengan dipimpin langsung oleh Karl Marx sendiri, dan dibantu oleh Fir'aun. Di belakangnya berbaris para pengikut mereka melakukan demonstrasi dan revolusi secara besar-besaran. Revolusi itu dinamakan dengan Revolusi Neraka.

Di antata mereka yang berdemonstrasi, ada beberapa tokoh terkenal sepanjang sejarah. Mereka berada di posisi paling depan. Di antaranya adalah Lenin, Stalin, Mao Zedong, Dajjal, Walid bin Mughirah, Abu Jahal, Abu Lahab, J.P. Coen, Jenderal Franco, Theodore Herzl, Mussolini, dan para diktator lainnya.

Saya masih ragu dengan Adolf Hitler, karena katanya dia meninggal di Indonesia, dan dimakamkan secara Islam. Wallahu a'lam.

Komentar